” Mulailah dari Dirimu Sendiri ” Kisah Sesendok Madu



Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak.Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu.

Alkisah pada suatu waktu sang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan membawa sesendok madu untuk dituangkan kedalam sebuah bejana yang telah disediakan di sebuah puncak bukit ditengah kota.

Seluruh warga memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota ( katakanlah si A )terlintas suatu cara untuk mengelak,”Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang.Sesendok air tidaklah akan mempengaruhi bejana yang kelak akan dipenuhi dengan madu oleh seluruh warga kota.”

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharap warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab

Nabi Muhammad pernah bersabda:” Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang merupakan pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental yang seperti inilah
yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun. ( dari: Lentera hati )

BANGGA


Walau kemanapun kita pergi, ingatlah tiga perkara yang paling penting…pertama, agama kita…kedua, ibu bapak kita…dan ketiga, asal usul kita…’

Yang terakhir kadang menjadi masalah, seseorang malu dengan asal usul sendiri…kalau datang dari kampung, mengakulah datang dari kampung…tapi sekarang, yang datang dari kampung tak mau mengaku orang kampung, malah terlihat lebih kota dari pada orang kota.

Kadang orang juga malu mengaku asal usul sukunya sendiri, yang mungkin dilatar belakangi stigma kurang baik yang diberikan orang kesukunya, menganggap remeh sukunya sendiri, merasa lebih modern kalau ikut gaya orang lain, sementara budaya dan kebiasaan suku sendiri dianggap kolot atau belakangan ini juga dilatar belakangi demi kelancaran karir pada era otonomi daerah,dimana ada kecendrungan pengangkatan pejabat diutamakan Putra daerah, akhirnya menutupi asalnya sendiri.

Menurut pendapat saya, banggalah dengan asal usul kita, suku kita, itu bukan berarti bersikap primordial, tetapi suatu sikap yang tahu diri, berterima kasih dan menghargai yang telah dilakukan oleh tetua dan leluhur kita.

SAYA BANGGA JADI ORANG MINANG………………………………………………………………………

SEGELAS AIR PUTIH


image

Kisah yang mau saya ceritakan ini, kejadiannya sudah sebelas tahun yang lalu, sewaktu saya masih seorang dokter PTT disebuah desa di Kabupaten Muaro Jambi, dulunya termasuk Kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi. Cerita ini menurut saya masih relevan saya ceritakan sekarang, karena mungkin saja keadaan yang sama masih terjadi sekarang, tapi saya berharap tidak…..

Suatu hari, setelah beberapa hari bertugas di Puskesmas Jambi Kecil, saya didatangi oleh seseorang, dari sebuah desa yang jaraknya lebih kurang 10 km dari Puskesmas tempat saya bertugas dengan maksud menjemput saya untuk di bawa kerumahnya karena ada keluarganya yang sakit, selain itu ada beberapa orang lagi tetangganya yang juga ingin berobat….. Kebiasaan berobat didaerah ini petugas kesehatan dipanggil kerumah untuk mengobati, kemudian beberapa tetangga yang sakit juga akan mendatangi rumah tersebut untuk berobat…

Waw alangkah senangnya hati ini, karena ini pasien praktek pribadi yang pertama semenjak bertugas, apalagi beberapa pasien yang lain juga sudah menunggu disana.Saya sempat juga menghitung hitung, berapa ya “ pitih” yang saya dapat nanti….hehehe. Akhirnya berangkatlah saya dengan dipandu oleh si penjemput tadi, mengendarai Kendaraan kebesaran kepala Puskesmas “PUSLING” yang walaupun sudah tua tapi lumayanlah buat menemani kesendirian si Kepala Puskesmas.

Sampailah ketempat yang dituju, di sebuah rumah yang cukup bagus untuk ukuran kampung disana , orang terlihat ramai berkumpul dirumah tersebut . Dalam hati saya menggumam, kalau semuanya berobat lumayan juga nih.

Diruang tengah terbaring seorang Bapak yang umurnya kalau saya taksir lebih kurang 50 tahun. Mulailah saya menanyai si Bapak tentang penyakit nya, kemudian memeriksanya, seteliti mungkin maklum dokter baru. Sewaktu saya lagi serius memeriksa, seorang gadis, mungkin ini anak si Bapak yg sakit, yang cukup manis saya kira, meletakkan segelas air sambil bilang ke saya” Pak Dokter nih airnya”, “ ma kasih dek jawab saya “. Setelah selesai saya memeriksa, saya putuskan untuk memberikan suntikan pada si Bapak, karena menurut informasi yang saya peroleh, orang kampung sini kalau belum disuntik sama saja belum berobat. Saya keluarkan jarum suntik , kemudian mengambil obat suntiknya Sewaktu saya menyuntik Bapak tersebut sekilas saya mendengar orang yang hadir disana berbisik bisik, tapi saya tidak tahu apa yang mereka bisikan, apalagi saya juga belum terlalu memahami bahasa dusun setempat. Tapi ya sudahlah, mudah mudahan mereka membisikkan hal yang baik tentang saya. Setelah mengobati si Bapak ternyata beberapa orang yang disana juga ingin berobat dengan saya (mereka menyebutnya besuntik) dan semuanya minta disuntik. Alhamdulillah………….
Akhirnya selesai juga saya mengobati pasien pasien saya. Capek juga, haus, apalagi dikerubungi oleh orang ramai seperti ini, saya teringat Air putih satu gelas yang diletakkan oleh anak gadis bapak tadi, saya ambil gelasnya, agak hangat, tapi nggak apa apalah, apalagi tenggorokan yang sudah kering begini, langsung saya teguk airnya sampai habis, saya lihat beberapa orang berbisik bisik, tapi cuek ajalah, saya haus kok….
Setelah ngomong-ngomong beberapa saat saya minta izin pulang ketuan rumah, tapi istri Bapak tadi bilang ” tunggu dulu Pak Dokter, minum dulu airnya, kami sudah sediakan diruang tamu “. Wah baik sekali orang disini pikir saya, bukankah tadi saya sudah disuguhi minum. Ternyata diruang tamu memang telah tersedia segelas teh untuk saya, terpaksa saya duduk lagi diruang tamu untuk menikmati teh yang disuguhi tuan rumah. Setelah berbasa basi beberapa saat saya pun permisi pulang. Saya pulang dengan hati yang senang karena telah selesai melaksanakan tugas saya, dapat “ pitih”, diterima dengan baik dengan penuh keramahan..Alhamdulillah ternyata profesi saya ini begitu menyenangkan ya Tuhan…

Kesesokan harinya di Puskesmas saya ceritakanlah pengalaman saya ini ke Staf saya di Puskesmas. Mula mula mereka mendengarkan dengan seksama, tapi sampai pada bagian saya minum segelas air putih hangat yang di suguhkan si anak gadis, mereka serempak tertawa, saya tanya ” kenapa kalian tertawa?” Kawan kawan tahu apa jawaban mereka?. ” Pak air putih yang bapak minum itu, sebenarnya bukan untuk diminum pak, itu adalah air untuk membilas ( mereka menyebut menSpuling ) jarum suntik sebelum dipakai ulang”, Alahmaaaaaaaak………….#$$%^%&^&%$@^**&^%
( Pantas saja orang orang dirumah tadi berbisik bisik sewaktu saya minum air tersebut, dan saya juga tidak membilas jarum suntik karena saya memakai jarum suntik sekali pakai ) duuuuuuuuuh malunya..

Itulah cerita pengalaman saya, ternyata dilapangan masih banyak ( saat itu ) petugas kesehatan yang melakukan tindakan tindakan yang tidak memperhatikan prinsip prinsip dasar yang seharusnya mereka lakukan. Jarum suntik dipakai berkali kali hanyalah merupakan contoh kecil, mungkin masih banyak lagi contoh lain yang sebenarnya merugikan si sakit baik itu yang terjadi di Puskesmas, Rumah Sakit mulai dari yang kecil sampai Rumah Sakit rujukan sekalipun. Semoga hal hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang……………