BANGGA


Walau kemanapun kita pergi, ingatlah tiga perkara yang paling penting…pertama, agama kita…kedua, ibu bapak kita…dan ketiga, asal usul kita…’

Yang terakhir kadang menjadi masalah, seseorang malu dengan asal usul sendiri…kalau datang dari kampung, mengakulah datang dari kampung…tapi sekarang, yang datang dari kampung tak mau mengaku orang kampung, malah terlihat lebih kota dari pada orang kota.

Kadang orang juga malu mengaku asal usul sukunya sendiri, yang mungkin dilatar belakangi stigma kurang baik yang diberikan orang kesukunya, menganggap remeh sukunya sendiri, merasa lebih modern kalau ikut gaya orang lain, sementara budaya dan kebiasaan suku sendiri dianggap kolot atau belakangan ini juga dilatar belakangi demi kelancaran karir pada era otonomi daerah,dimana ada kecendrungan pengangkatan pejabat diutamakan Putra daerah, akhirnya menutupi asalnya sendiri.

Menurut pendapat saya, banggalah dengan asal usul kita, suku kita, itu bukan berarti bersikap primordial, tetapi suatu sikap yang tahu diri, berterima kasih dan menghargai yang telah dilakukan oleh tetua dan leluhur kita.

SAYA BANGGA JADI ORANG MINANG………………………………………………………………………

SEGELAS AIR PUTIH


image

Kisah yang mau saya ceritakan ini, kejadiannya sudah sebelas tahun yang lalu, sewaktu saya masih seorang dokter PTT disebuah desa di Kabupaten Muaro Jambi, dulunya termasuk Kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi. Cerita ini menurut saya masih relevan saya ceritakan sekarang, karena mungkin saja keadaan yang sama masih terjadi sekarang, tapi saya berharap tidak…..

Suatu hari, setelah beberapa hari bertugas di Puskesmas Jambi Kecil, saya didatangi oleh seseorang, dari sebuah desa yang jaraknya lebih kurang 10 km dari Puskesmas tempat saya bertugas dengan maksud menjemput saya untuk di bawa kerumahnya karena ada keluarganya yang sakit, selain itu ada beberapa orang lagi tetangganya yang juga ingin berobat….. Kebiasaan berobat didaerah ini petugas kesehatan dipanggil kerumah untuk mengobati, kemudian beberapa tetangga yang sakit juga akan mendatangi rumah tersebut untuk berobat…

Waw alangkah senangnya hati ini, karena ini pasien praktek pribadi yang pertama semenjak bertugas, apalagi beberapa pasien yang lain juga sudah menunggu disana.Saya sempat juga menghitung hitung, berapa ya “ pitih” yang saya dapat nanti….hehehe. Akhirnya berangkatlah saya dengan dipandu oleh si penjemput tadi, mengendarai Kendaraan kebesaran kepala Puskesmas “PUSLING” yang walaupun sudah tua tapi lumayanlah buat menemani kesendirian si Kepala Puskesmas.

Sampailah ketempat yang dituju, di sebuah rumah yang cukup bagus untuk ukuran kampung disana , orang terlihat ramai berkumpul dirumah tersebut . Dalam hati saya menggumam, kalau semuanya berobat lumayan juga nih.

Diruang tengah terbaring seorang Bapak yang umurnya kalau saya taksir lebih kurang 50 tahun. Mulailah saya menanyai si Bapak tentang penyakit nya, kemudian memeriksanya, seteliti mungkin maklum dokter baru. Sewaktu saya lagi serius memeriksa, seorang gadis, mungkin ini anak si Bapak yg sakit, yang cukup manis saya kira, meletakkan segelas air sambil bilang ke saya” Pak Dokter nih airnya”, “ ma kasih dek jawab saya “. Setelah selesai saya memeriksa, saya putuskan untuk memberikan suntikan pada si Bapak, karena menurut informasi yang saya peroleh, orang kampung sini kalau belum disuntik sama saja belum berobat. Saya keluarkan jarum suntik , kemudian mengambil obat suntiknya Sewaktu saya menyuntik Bapak tersebut sekilas saya mendengar orang yang hadir disana berbisik bisik, tapi saya tidak tahu apa yang mereka bisikan, apalagi saya juga belum terlalu memahami bahasa dusun setempat. Tapi ya sudahlah, mudah mudahan mereka membisikkan hal yang baik tentang saya. Setelah mengobati si Bapak ternyata beberapa orang yang disana juga ingin berobat dengan saya (mereka menyebutnya besuntik) dan semuanya minta disuntik. Alhamdulillah………….
Akhirnya selesai juga saya mengobati pasien pasien saya. Capek juga, haus, apalagi dikerubungi oleh orang ramai seperti ini, saya teringat Air putih satu gelas yang diletakkan oleh anak gadis bapak tadi, saya ambil gelasnya, agak hangat, tapi nggak apa apalah, apalagi tenggorokan yang sudah kering begini, langsung saya teguk airnya sampai habis, saya lihat beberapa orang berbisik bisik, tapi cuek ajalah, saya haus kok….
Setelah ngomong-ngomong beberapa saat saya minta izin pulang ketuan rumah, tapi istri Bapak tadi bilang ” tunggu dulu Pak Dokter, minum dulu airnya, kami sudah sediakan diruang tamu “. Wah baik sekali orang disini pikir saya, bukankah tadi saya sudah disuguhi minum. Ternyata diruang tamu memang telah tersedia segelas teh untuk saya, terpaksa saya duduk lagi diruang tamu untuk menikmati teh yang disuguhi tuan rumah. Setelah berbasa basi beberapa saat saya pun permisi pulang. Saya pulang dengan hati yang senang karena telah selesai melaksanakan tugas saya, dapat “ pitih”, diterima dengan baik dengan penuh keramahan..Alhamdulillah ternyata profesi saya ini begitu menyenangkan ya Tuhan…

Kesesokan harinya di Puskesmas saya ceritakanlah pengalaman saya ini ke Staf saya di Puskesmas. Mula mula mereka mendengarkan dengan seksama, tapi sampai pada bagian saya minum segelas air putih hangat yang di suguhkan si anak gadis, mereka serempak tertawa, saya tanya ” kenapa kalian tertawa?” Kawan kawan tahu apa jawaban mereka?. ” Pak air putih yang bapak minum itu, sebenarnya bukan untuk diminum pak, itu adalah air untuk membilas ( mereka menyebut menSpuling ) jarum suntik sebelum dipakai ulang”, Alahmaaaaaaaak………….#$$%^%&^&%$@^**&^%
( Pantas saja orang orang dirumah tadi berbisik bisik sewaktu saya minum air tersebut, dan saya juga tidak membilas jarum suntik karena saya memakai jarum suntik sekali pakai ) duuuuuuuuuh malunya..

Itulah cerita pengalaman saya, ternyata dilapangan masih banyak ( saat itu ) petugas kesehatan yang melakukan tindakan tindakan yang tidak memperhatikan prinsip prinsip dasar yang seharusnya mereka lakukan. Jarum suntik dipakai berkali kali hanyalah merupakan contoh kecil, mungkin masih banyak lagi contoh lain yang sebenarnya merugikan si sakit baik itu yang terjadi di Puskesmas, Rumah Sakit mulai dari yang kecil sampai Rumah Sakit rujukan sekalipun. Semoga hal hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang……………

PETATAH PETITIH


– Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang
Kok hanyuik bapintasi, tabanam basilami
Tatilantang samo minum ambun, tatilungkuik samo makan tanah
Tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah
Mandapek samo balabo, kahilangan samo barugi.

– Gadang usah malendo
panjang usah malindih
cadiak usah manjua
laweh usah manyaok
Cadiak jan bambuang kawan
gapuak nan usah mambuang lamak
tukang nan tidak mambuang kayu.

_ Manyauak di ilia-ilia, bakato dibawah-bawah.

_Jan sarupo jawi balang puntuang, didulukan inyo manyipak, dikamudiankan inyo mananduak.

_ Panjang namuah dikarek senteng namuah dibilai, singkek namuah diuleh, kurang namuah ditukuak.

_ Kato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.

_ Elok sairiang jo juru mudi, elok saiyo jo sakato, kok pandai bamain
budi, nan lia jinak malakok.

_ Nan elok dek awak katuju dek urang, sakik dek awak sakik dek urang.