Terakhir kali saya digendong Ibu sewaktu saya berumur 9 tahun….ya…benar umur 9 tahun, heran kan ? anak seusia itu masih digendong oleh ibunya. Tapi itulah kenyataannya, pada umur 9 tahun tersebut sekali seminggu selama 4 minggu saya digendong oleh ibu. Ibu saya yang waktu itu sudah mulai ringkih, 53 tahun. Saya tidak memikirkan waktu itu betapa susahnya ibu mengendong saya, naik turun pendakian, melalui pematang sawah, yang saya tahu saya digendong.
Berapa berat badan waktu itu saya tidak tahu , tapi sekarang saya berfikir, pasti untuk seseorang yang sudah berumur 53 tahun ( ibu melahirkan saya sewaktu berumur 44 tahun, usia yang sudah cukup beresiko) akan sangat kesulitan sekali mengendong seorang anak umur 9 tahu..hhh alangkah teganya saya sebagai anak. Sekarang saya berfikir kok tega teganya saya minta gendong ke ibu, seharusnya saya bisa berjalan sendiri. Tapi luar biasa…selama digendong melewati jalan mendaki dan menurun tidak sekalipun beliau mengeluhkan badan saya yang berat digendongannya.
Sekarang saya yakin beliau pasti merasakan berat mengendong saya waktu itu, karena diumur saya yang baru 46 tahun saja sudah sangat susah mengendong anak saya yang kemungkinan berat badannya tidak jauh beda dengan saya waktu umur 9 tahun.
Mungkin ada yang bertanya tanya, kenapa seumur itu saya masih di gendong ibu ? dan kenaoa begitu tega meminta ibu mengendong saya?
Waktu itu saya mengalami patah tangan karena terjatuh sewaktu bermain main dengan kawan. Tangan kiri saya patah sehingga tidak bisa dilipat disiku. Kawan bisa bayangkan tangan saya tetap lurus tak mau dilipat. Kemungkinan waktu itu mungkin sendi siku saya mengalami dislokasi, tetapi waktu itu fraktur atauoun dislokasi orang kampung menyebutnya patah saja, dan solusinya pasti dukun patah.
Waktu itu kasus patah belum terbiasa dibawa kedokter, saya dibawa berobat kedukun patah oleh ibu , kediaman dukun itu lebih kurang dua kilo meter dari rumah kami dengan jalan yang naik turun. Kendaraan ? Jelas kami tidak punya, angkutan umum ? mana mungkin, karena antara rumah saya dan dukun patah adalah daerah persawahan..yang ada hanya jalan tanah. Mungkin saya termasuk anak yang manja ke Ibu…sehingga kalau capek berjalan saya minta gendong dengan alasan tangannya sakit. Luar biasa…ibu tidak pernah menolak, beliau menggendong saya dengan penuh sayang tanpa mengeluh sedikitpun…bayangkan kawan….anak 9 tahun di gendong . Dan itu berlangsung selama 4 minggu.Itulah terakhir saya di gendong ibu, berapa kali digendong sebelumnya, mulai dari bayi…mungkin tidak terhitung lagi.
Sewaktu beliau sudah mulai sakit sakitan, ibu kami bawa ketempat saya bertugas, tinggal dirumah dinas kecil kami. Ini lah waktu yang memungkin saya berlama lama ketemu dengan ibu.
Perhatiannya kepada saya tetap tidak berkurang. Membuatkan teh, mengingatkan makan sambil bercerita tentang kejadian yang dulu dulu, mulai lagi menjadi rutinitas keseharian beliau bersama saya. Entah mengapa sewaktu beliau mulai sakit sakitan ini, keinginan untuk bercerita apa saja tidak bisa di setop, beliau menceritakan kembali tentang apa saja yang sudah pernah saya dengar sebelumnya….kami, saya dengan istri, berusaha menjadi pendengar yang baik….
Pada suatu hari tengah malam di bulan puasa 2008 pintu kamar kami diketuk dari luar ditambah suara lirih ibu…”Ed..ed…Lola”.
Kami terbangun dan segera membuka pintu kamar………ya Allah….ibu yang walaupun dalam keadaan sakit tetap berusaha kuat sekarang terduduk didepan pintu kamar kami dengan salah satu sisi tubuh yang tidak bisa di gerakkan lagi…..Hancur hati saya melihat kondisi ibu seperti itu. Beliau ngomong mau ke kamar mandi, “ mari saya gendong bu” alangkah keras hatinya “ nggak usah ibu bisa”. Tapi mana mungkin kekamar mandi…bergerak saja sudah tak bisa.
Akhirnya saya angkat dan gendong ibu kekamar mandi. Setelah itu kembali saya gendong kekamar beliau. Kami memutuskan tak mungkin ibu dirawat dirumah….malam itu juga kami putuskan untuk dirawat dirumah sakit. Ibu didiagnosa mengalami infark serebri luas.
10 Hari setelah saya mengendong ibu dan membawanya kerumah sakit, beliau meninggalkan kami selama lamanya beberapa hari menjelang lebaran. Kami kehilangan orang yang betul betul keras hati, kuat dengan prinsip prinsipnya, tidak pernah mengeluh….innalillahi wainnailaihi rajiun.
Apa yang bisa diambil pelajaran, ?
Tidak akan pernah sebanding apa yang sudah diberikan seorang ibu kepada kita dengan apa yang sudah kita berikan kepada ibu. Untuk satu masalah gendongan saja, hanya berkesempatan sekali mengendong ibu dibanding ratusan entah ribuan kali ibu mengendong kita. Belum lagi untuk hal lainnya.
Berbahagialah kawan kawan yang masih mempunyai ibu, bahagianlah ibu, senangkanlah hati ibu, sebab kalau tidak, kita akan menyesal setelah ibu tidak lagi bersama kita….


