SUPERDOC


Malam itu entah kenapa mata saya terasa sangat berat sekali, tidak bisa ditahan, mengantuk sekali dan ingin tidur rasanya.Buat melawan kantuk iseng saya baca baca artikel media online di HP, tetapi sepertinya kantuk tetap tak bisa dilawan.

Akhirnya dengan HP masih ditangan saya coba merebahkan kepala diatas meja kerja saya yang dipenuhi tumpukan kertas yang harus saya tanda tangani segera, karena besok merupakan hari terakhir laporan dan klaim kunjungan non kapitasi bulan ini ke BPJS.

Tiba tiba saya dikagetkan oleh ketukan yang sudah seperti gedoran di pintu rumah dinas saya…
“Dok, dokter…ada pasien gawat di UGD, keluarganya sudah marah marah dok”
Dengan mata yang masih mengantuk saya buka pintu dan bergegas ke UGD yang jaraknya tidak lebih dari selemparan batu dari rumah Dinas saya.

Di UGD saya lihat seorang pasien laki2 umur lebih kurang 65 tahun tergeletak diatas meja periksa dengan kondisi berat. Untung saya sudah berkali kali menemui pasien seperti ini, jadi tidak terlalu grogi lagi apalagi sudah menjalani pendidikan DLP yang katanya setara sepesialis itu, saya lebih tenang lagi. Saya periksa pasien, kemudian meminta agar staf saya menyediakan obat suntik.

Staf Puskesmas yang saya suruh mengambil obat datang berbisik ke telinga saya
“Dok, obat yang itu habis dok” saya merasakan getaran ketakutan disuaranya.
Dengan sedikit memberatkan suara dan setengah berbisik “Kenapa bisa habis”?
“Drop dari dinas belum datang dok, kata orang dinas proses tender obat belum selesai”

Akhirnya dengan sedikit geram saya masukkan obat obat yang tersedia di Puskesmas yang menurut saya tidak terlalu tepat dipakai untuk kondisi ini, tetapi apa boleh buat saya harus ambil tindakan.

Karena kondisi pasien yang cukup berat dan keterbatasan obat2an, akhirnya pasien harus dirujuk kerumah sakit Kabupaten. Saya minta salah seorang staf saya buat kebandara, kebetulan di daerah tempat tugas saya ini ada sebuah bandara perintis yang melayani penerbangan ke ibukota propinsi dua kali seminggu.

image

Tidak berapa lama staf Puskesmas yang saya tugaskan tadi kembali datang kepada saya dengan wajah yang semakin kuyu “Dok, pesawatnya sudah berangkat, ada satu pesawat milik perusahaan, tapi pilotnya lagi cuti dok, jadi nggak ada yang bisa menerbangkan”.
“Ya sudah, sekarang kamu siapkan pasiennya buat evakuasi, saya mau ke Perusahaan meminjam pesawat , langsung kamu bawa pasiennya ke bandara , saya akan menyusul kesana”. Saya lihat Staf tadi sejenak terbengong mendengar kata kata saya. Saya berlalu meninggalkan dia dengan keterbengongannya.

Perusahaan akhirnya meminjamkan pesawat kepada saya, saya langsung ke bandara. Sesampainya dibandara terlihat pasien juga sudah berada disana didampingi oleh keluarga dan perawat Puskesmas. Saya perintahkan langsung pasien dinaikkan ke pesawat.

Setelah semua berada dipesawat, perawat yang mendampingi bertanya “Dok…..yang menerbangkan pesawat siapa?”. “Saya” Jawab saya….sesaat saya lihat wajah bengong bercampur kaget bin tak percaya dari sang perawat, tanpa sadar keluar dari mulutnya “memang dokter bisa?”…….”Kamu jangan sepelekan saya, saya ini DLP”……

Pasien sudah dimasukkan kepesawat, saya masuk ke kokpit. sementara dua orang perawat saya dan satu orang satf perusahaan terlihat masih penuh kebingungan menatap saya “siapa yang mengemudikan pesawatnya dok” staff perusahaan bertanya. “Saya, saya punya sertifikat penerbang”… jawab saya.

Akhirnya, semua siap, saya nyalakan pesawat, saya tekan throothle kedepan, Ketika Ground speed indicator menunjukkan 2200 rpm pesawat mulai bergerak, makin lama makin cepat. Sekilas saya lihat hidung pesawat sudah mulai terangkat, saya tarik tuas kemudi semakin kebelakang, hidung pesawat semakin naik, pesawat mulai terbang semakin tinggi dan semakin tinggi. Tiba tiba…..brakkkkkkkkkk pesawat terasa menabrak sesuatu, saya terlempar dari bangku kokpit, pandangan saya menjadi gelap. Beberapa saat saya buka mata, saya terkapar dibawah meja. Ealahhhhh, tahunya saya ketiduran dimeja dan mimpi jadi seorang pilot…ya ammpunnnn.

Saya lihat HP masih ditangan karena punya ring di cover belakangnya buat memasukkan jari. Saya amati HP, halaman terakhir masih terbuka ternyata sebuah berita

http://m.detik.com/health/read/2016/10/31/180316/3333770/763/ada-muatan-lokal-dokter-layanan-primer-bisa-belajar-menyetir-pesawat

Dokter akan diberi muatan lokal mengemudikan pesawat dan speed boat. Menarik sekali ide ini menurut saya, karena belajar mengemudikan pesawat sesuatu yang menantang dan saya acungkan dua jempol empat dengan jempol kaki buat rencananya yang sangat inovatif sekali, dan belum terfikirkan oleh pengambil kebijakan sebelumnya, orang ini sangat visioner .

Sekarang timbul pertanyaan, apakah setiap rencana yang inovatif dan dibuat oleh para visoner ini adalah sesuatu yang baik dilaksanakan saat ini??
Secara pribadi saya berpendapat tidak, karena belum tentu rencana yang tampak inovatif ini adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh dunia kesehatan Indonesia saat ini. Masih banyak hal hal lain yang lebih dibutuhkan.
Menurut saya saat ini kita hanya membutuhkan dokter seperti biasanya, kita tidak butuh “AVIADOC” aviator doctor, “BOAT DOC atau SUPERDOC, yang kita butuhkan hanyalah dokter seperti saat ini, tetapi di lengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai, pendapatan yang layak, tidak dibebani dengan gonjang ganjing kebijakan daerah, dilepaskan dari kepentingan kepentingan pencitraan sesaat.

Teringat saya motto Semen Padang “kami berbuat sebelum orang lain memikirkan”….utamakan berpikir seperti kata cak Lontong…Mikir….mikir…mikir (sambil tunjuk jidat). Janganlah berbuat sebelum berfikir, orang kampung saya bilang itu namanya “Karocoh pocoh”.

Selamat pagi Jambi
Zuhdi Darma
Selama sibuk gonjang ganjing negeri, saatnya merawat kepedulian profesi

Tinggalkan komentar