INI BERASKU MANA BERASMU


Siang kemaren saya sempatkan membeli beras buat persiapan dirumah, kebetulan saya mau pulang. Berasnya beras spesial…hihi harus beras Solok, beras yang berasal dari Sumatera Barat.

Entah kenapa seisi rumah kalau makan harus makan beras yang ini. Mulai dari mertua, makannya harus beras Solok. Kalau beras lain “Bagatah, malengket, ndak manganyangkan kalau dimakan” itu alasan beliau.  Sedangkan anak saya, kalau tidak beras ini, lebih mau dia nggak makan, karena beras lain katanya ” nasinya nggak enak, nggak misah, kayak ketan” itulah alasan mereka. Sementara kami berdua saya dan istri, sebenarnya bisa makan beras apa saja yang penting makan, tapi kalau ada pilihan beras Solok atau beras lain?? tetap beras Solok lah.

Nah…ketika saya membeli beras di rumah makan kemaren, sewaktu saya lagi membayar harga berasnya di kasir, seorang bapak bapak yang habis membeli lauk di rumah makan tersebut bertanya ke kasirnya

“Wah…disini juga jual beras toh” dengan ucapan yang kalau orang mendengar pasti langsung berfikiran beliau pasti orang Jawa.
“Ada pak” jawab Kasir.
“Pulen nggak?”.
“Beras Solok nggak ada yang pulen pak” Jawab si Kasir.
“Ya wis, tadinya saya mau beli kalau pulen”.

Saya cuma senyum simpul saja mendengar percakapan dua orang tadi.

Begitulah, memilih beras yang mau dimasak untuk dimakan saja selera orang sudah berbeda beda, tidak sama. Seseorang mungkin suka beras yang setelah dimasak menjadi nasi yang bertekstur keras, kalau dibiarkan lama menjadi kering dan keras, nasinya misah atau #badarai kata orang minang atau ada yang menyebutnya pera, kalau dimakan memberi kenyang yang lama. Umumnya orang minang suka beras yang seperti ini, coba saja anda perhatikan rumah makan Padang, umumnyaemasak nasinya badarai.

Sementara orang lain, seperti pada umunya orang Jawa lebih suka dengan Nasi yang pulen, menyatu kalau dimasak, kelihatannya seperti berminyak dan mereka ada yang tidak mau sama sekali memakan Nasi yang badarai, mereka bilang beras pulen rasanya lebih enak, lebik lembut teksturnya dan lebih wangi…entahlah mana yang benar, buat saya dua duanya enak, tapi kalau disuruh memilih saya lebih memilih beras pera.

Cara pemilihan beras saja orang, suku bangsa sudah berbeda beda. Kalau kita lihat pemilihan lainnya akan semakin banyak perbedaan kita lihat. Cara berpakaian misalnya, model pakaian orang arab berbeda dengan model pakaian orang china, melayu. Makanya kalau keturunan arab mau berpakaian seperti masyarakat arab boleh boleh saja, jangan dipermasalahkan. Atau kalau orang melayu yang kagum dengan budaya arab kemudian berpakaian ala arab, dan mereka nyaman boleh boleh saja. Bisa juga terjadi orang melayu senang dengan berpakaian ala  Eropa, mereka setiap hari memakai Jas dan dasi..ok ok saja, tak dilarang, karena itu kebebasan dalam memilih dan berekspresi.
Yang harus kita hindari adalah menghina cara dan pilihan orang lain, dan menyuruh orang pindah dari indonesia…ammpun cara berfikir seperti apa ini?? Karena pilihan dan selera seseorang adalah hak asasi yang harus dihormati.

Dan yang lebih fatal lagi ini….. setiap hari kita dirumah memakan beras yang pera, tetapi memuji muji beras yang pulen atau sebaliknya, itu namanya kita berpura pura. Bisa juga setiap hari kita memakai jeans dan baju berkain flanel ( kebanyakan bermotif kotak kotak ) yang merupakan budaya western, tetapi kita berteriak teriak..hoi onta berdaster, berjanggut…pindah ke Arab sana. Itu namanya tak sadar diri…
image

Kawan2 begitulah yang saya lihat dalam kehidupan nyata saat ini. Sering yang kita ucapkan kontradiktif dengan yang kita lakukan. Saya hanya berharap marilah kita ciptakan Indonesia lebih damai, lebih saling menghormati, lebih bermartabat, lebih terhormat..dan itu hanya bisa tercipta kalau kita mulai dari kita sendiri….itu..

Sore
Jambi Cerah 😍😍😍

NYIRU


Setiap rumah tangga, terutama yang di pedesaan pasti mempunyai perangkat ini. Sebuah peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu, bisa berbentuk bulat, segi tiga atau segi empat. Disekelilingnya diberi rotan sebagai bingkai agar  jadi kokoh dan kuat buat pegangan sewaktu menampi.
Berbagai macam cara menyebutnya; nyiru, ada yang menyebutnya tampian, tampah, ayakan, penampi atau badang.

image

Fungsi utama nyiru adalah untuk menampi beras atau gabah. Beras ditampi agar dapat memisahkan antah dan beras, sehingga beras yang dihasilkan untuk dijual atau untuk dimasak adalah beras yang berkualitas layak makan.

Bagaimana proses menampi beras??
Bagi yang hidup dikampung seperti saya ini, melihat orang menampi beras atau bahkan menampi beras adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan. Kelihatan menampi beras ini sepertinya mudah dilakukan, coba saja anda lakukan, setelah melakukannya sendiri saya yakin  anggapan semula bahwa menampi mudah akan terbantahkan.

Pertama tama beras dituangkan kedalam nyiru, nyiru dipegang pada bingkainya dengan dua tangan dikiri dan kanan. Kemudian nyiru di goyang kekiri dan kekanan, kedepan dan kebelakang dengan goyangan yang terukur sehingga walaupun digoyang goyang berkali kali tak ada beras yang tumpah sebutirpun keluar dari nyiru. Kadang kadang nyiru dilempar keatas dengan melepaskan nyiru dari tangan, sehingga beraspun ikut berhamburan keatas. Lemparan ketas ditingkahi dengan tepukan yang keras pada nyiru sewaktu ditangkap kembali setelah dilempar,  beras tetap tidak tumpah.

Setelah beberapa goyangan, cobalah amati. Beras akan berkumpul menjadi satu kelompok dengan beras, antah akan berkumpul pula sesama antah, dan yang paling membuat kita takjub menir akan berkumpul diujung sesama menir.

Secara logika proses ini normal-normal saja. Yang mempunyai berat yang sama akan berusaha berkumpul menjadi satu kelompok ketika adanya pergerakan. Bak kata pepatah “antah berkumpul sesama antah, beras berkumpul bersama beras”

Kalau kita bawa kepada kondisi kekinian, pelajaran apakah yang bisa kita ambil??

Gonjang ganjing yang terjadi di Nusantara beberapa waktu belakangan ini bisa diibaratkan goncangan atau goyangan pada nyiru oleh sipemilik nyiru,  artinya apa?
Kita akan bisa melihat karakter asli seseorang setelah ada goyangan, orang orang seide akan berkumpul dengan yang seide, merah akan berkumpul sesama merah, hijau akan berkumpul sesama hijau, kuning akan berkumpul sesama kuning.

Manakah yang terbaik?? tidak usah dibahas dan tidak usah diperdebatkan, yang harus kita pahami bahwa setelah goyangan ini kita akan bisa melihat ini lah yang bisa menjadi kawan seiring, dan itulah yang bisa jadi batu penarung. Kita bisa menjadi paham bahwa ada yang tidak seide dengan kita, ada yang berbeda aliran dengan kita cukup itu saja.

Apapun pengelompokan apapun aliran tetap ada gunanya. Antah ada yang diolah lagi, digiling lagi dipenggilingan diberi pemutih, dicampur dengan beras, orang bisa tertipu, dikira beras semua ternyata bercampur antah.
Menir bisa dibuat bubur untuk makan orang sakit, atau orang yang tidak punya gigi.
Tentu yang terbaik adalah beras, itu yang menjadi makan pokok kita… 😀

Sekarang mana yang antah mana yang beras dan mana yang menir semakin jelas, masalahnya kita diposisi mana??
Terserah kita

Jambi
Selamat Jumat

NYIRU


NYIRU

Setiap rumah tangga, terutama yang di pedesaan pasti mempunyai perangkat ini. Sebuah peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu, bisa berbentuk bulat, segi tiga atau segi empat. Disekelilingnya diberi rotan sebagai bingkai agar  jadi kokoh dan kuat buat pegangan sewaktu menampi.
Berbagai macam cara menyebutnya; nyiru, ada yang menyebutnya tampian, tampah, ayakan, penampi atau badang.

image

Fungsi utama nyiru adalah untuk menampi beras atau gabah. Beras ditampi agar dapat memisahkan antah dan beras, sehingga beras yang dihasilkan untuk dijual atau untuk dimasak adalah beras yang berkualitas layak makan.

Bagaimana proses menampi beras??
Bagi yang hidup dikampung seperti saya ini, melihat orang menampi beras atau bahkan menampi beras adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan. Kelihatan menampi beras ini sepertinya mudah dilakukan, coba saja anda lakukan, setelah melakukannya sendiri saya yakin  anggapan semula bahwa menampi mudah akan terbantahkan.

Pertama tama beras dituangkan kedalam nyiru, nyiru dipegang pada bingkainya dengan dua tangan dikiri dan kanan. Kemudian nyiru di goyang kekiri dan kekanan, kedepan dan kebelakang dengan goyangan yang terukur sehingga walaupun digoyang goyang berkali kali tak ada beras yang tumpah sebutirpun keluar dari nyiru. Kadang kadang nyiru dilempar keatas dengan melepaskan nyiru dari tangan, sehingga beraspun ikut berhamburan keatas. Lemparan ketas ditingkahi dengan tepukan yang keras pada nyiru sewaktu ditangkap kembali setelah dilempar,  beras tetap tidak tumpah.

Setelah beberapa goyangan, cobalah amati. Beras akan berkumpul menjadi satu kelompok dengan beras, antah akan berkumpul pula sesama antah, dan yang paling membuat kita takjub menir akan berkumpul diujung sesama menir.

Secara logika proses ini normal-normal saja. Yang mempunyai berat yang sama akan berusaha berkumpul menjadi satu kelompok ketika adanya pergerakan. Bak kata pepatah “antah berkumpul sesama antah, beras berkumpul bersama beras”

Kalau kita bawa kepada kondisi kekinian, pelajaran apakah yang bisa kita ambil??

Gonjang ganjing yang terjadi di Nusantara beberapa waktu belakangan ini bisa diibaratkan goncangan atau goyangan pada nyiru oleh sipemilik nyiru,  artinya apa?
Kita akan bisa melihat karakter asli seseorang setelah ada goyangan, orang orang seide akan berkumpul dengan yang seide, merah akan berkumpul sesama merah, hijau akan berkumpul sesama hijau, kuning akan berkumpul sesama kuning.

Manakah yang terbaik?? tidak usah dibahas dan tidak usah diperdebatkan, yang harus kita pahami bahwa setelah goyangan ini kita akan bisa melihat ini lah yang bisa menjadi kawan seiring, dan itulah yang bisa jadi batu penarung. Kita bisa menjadi paham bahwa ada yang tidak seide dengan kita, ada yang berbeda aliran dengan kita cukup itu saja.

Apapun pengelompokan apapun aliran tetap ada gunanya. Antah ada yang diolah lagi, digiling lagi dipenggilingan diberi pemutih, dicampur dengan beras, orang bisa tertipu, dikira beras semua ternyata bercampur antah.
Menir bisa dibuat bubur untuk makan orang sakit, atau orang yang tidak punya gigi.
Tentu yang terbaik adalah beras, itu yang menjadi makan pokok kita… 😀

Sekarang mana yang antah mana yang beras dan mana yang menir semakin jelas, masalahnya kita diposisi mana??
Terserah kita

Jambi
Selamat Jumat