Setiap rumah tangga, terutama yang di pedesaan pasti mempunyai perangkat ini. Sebuah peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu, bisa berbentuk bulat, segi tiga atau segi empat. Disekelilingnya diberi rotan sebagai bingkai agar jadi kokoh dan kuat buat pegangan sewaktu menampi.
Berbagai macam cara menyebutnya; nyiru, ada yang menyebutnya tampian, tampah, ayakan, penampi atau badang.
Fungsi utama nyiru adalah untuk menampi beras atau gabah. Beras ditampi agar dapat memisahkan antah dan beras, sehingga beras yang dihasilkan untuk dijual atau untuk dimasak adalah beras yang berkualitas layak makan.
Bagaimana proses menampi beras??
Bagi yang hidup dikampung seperti saya ini, melihat orang menampi beras atau bahkan menampi beras adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan. Kelihatan menampi beras ini sepertinya mudah dilakukan, coba saja anda lakukan, setelah melakukannya sendiri saya yakin anggapan semula bahwa menampi mudah akan terbantahkan.
Pertama tama beras dituangkan kedalam nyiru, nyiru dipegang pada bingkainya dengan dua tangan dikiri dan kanan. Kemudian nyiru di goyang kekiri dan kekanan, kedepan dan kebelakang dengan goyangan yang terukur sehingga walaupun digoyang goyang berkali kali tak ada beras yang tumpah sebutirpun keluar dari nyiru. Kadang kadang nyiru dilempar keatas dengan melepaskan nyiru dari tangan, sehingga beraspun ikut berhamburan keatas. Lemparan ketas ditingkahi dengan tepukan yang keras pada nyiru sewaktu ditangkap kembali setelah dilempar, beras tetap tidak tumpah.
Setelah beberapa goyangan, cobalah amati. Beras akan berkumpul menjadi satu kelompok dengan beras, antah akan berkumpul pula sesama antah, dan yang paling membuat kita takjub menir akan berkumpul diujung sesama menir.
Secara logika proses ini normal-normal saja. Yang mempunyai berat yang sama akan berusaha berkumpul menjadi satu kelompok ketika adanya pergerakan. Bak kata pepatah “antah berkumpul sesama antah, beras berkumpul bersama beras”
Kalau kita bawa kepada kondisi kekinian, pelajaran apakah yang bisa kita ambil??
Gonjang ganjing yang terjadi di Nusantara beberapa waktu belakangan ini bisa diibaratkan goncangan atau goyangan pada nyiru oleh sipemilik nyiru, artinya apa?
Kita akan bisa melihat karakter asli seseorang setelah ada goyangan, orang orang seide akan berkumpul dengan yang seide, merah akan berkumpul sesama merah, hijau akan berkumpul sesama hijau, kuning akan berkumpul sesama kuning.
Manakah yang terbaik?? tidak usah dibahas dan tidak usah diperdebatkan, yang harus kita pahami bahwa setelah goyangan ini kita akan bisa melihat ini lah yang bisa menjadi kawan seiring, dan itulah yang bisa jadi batu penarung. Kita bisa menjadi paham bahwa ada yang tidak seide dengan kita, ada yang berbeda aliran dengan kita cukup itu saja.
Apapun pengelompokan apapun aliran tetap ada gunanya. Antah ada yang diolah lagi, digiling lagi dipenggilingan diberi pemutih, dicampur dengan beras, orang bisa tertipu, dikira beras semua ternyata bercampur antah.
Menir bisa dibuat bubur untuk makan orang sakit, atau orang yang tidak punya gigi.
Tentu yang terbaik adalah beras, itu yang menjadi makan pokok kita… 😀
Sekarang mana yang antah mana yang beras dan mana yang menir semakin jelas, masalahnya kita diposisi mana??
Terserah kita
Jambi
Selamat Jumat

