
JANGAN MENGINTIMIDASI
Beberapa hari yang lalu, diruang praktek saya, seorang anak kecil berobat diantar ibunya.
“Celamat malam pak doktel”
“celamat malam sayang, kenapa?”
“sakit pak doktel, batuk pilek”
kemudian…..bla…bla…bla..berlanjut percakapan kami.
Ibunya hanya senyum senyum saja, sampai keluar ruang praktek membawa kertas resep,masih sempat budak kecil ini mengucap salam ” “Acalamualaikum pak doktel”
“alaikum salam sayang”
Masih pada malam yang sama, pasien terakhir masuk ruang praktek digendong ibunya. Baru saja nongol langsung keluar suara
“eeeeaaaaaaaaaaaaa, mmmoh” sambil meronta
Kelihatan wajah kesal ibunya….
” husssh diam, nanti kamu disuntik pak dokter”
“Eaaaaaaaaaaaaa” tangis sianak semakin keras
“Diammmm..suntik aja pak dokter, kalau perlu di inpus”
“glek….” senyap, sianak menelan tangisnya diam.
Terlihat senyum puas ibunya, karena anaknya sudah diam.
Bla…bla…bla saya bercakap dengan ibunya. Sedangkan sianak kecil mendekap ibunya, memandang dengan sudut matanya kearah saya, kecut..
Sebagai seorang dokter saya bisa menyimpulkan bahwa anak yang pertama adalah anak yang menganggap dokter adalah seseorang yang menyenangkan, yang ada buat membantu dia kalau lagi sakit, membantu dia supaya bisa sehat. Mengunjugi dokter buat dia adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Bahkan ada pasien saya, anak anak yang seperti kecanduan ketemu om dokter 😊.
Sedangkan anak kedua melihat dokter sebagai suatu momok yang menakutkan, karena dokter akan menyuntik dia, dokter akan memberikan obat yang pahit, dokter akan menginfus dia. Kegiatan kedokter adalah kegiatan yang membikin dia stress karena akan menyakitkan buat dia.
Begitulah, objek yang sama saja (dokter) bisa disikapi secara berbeda, walaupun menurut mereka cara bersikap mereka adalah cara yang tepat.
Sebagai seorang dokter saya akan lebih senang direspon oleh pasien seperti yang dilakukan oleh anak yang pertama tadi. Anak yang dibesarkan dengan cara komunikasi yang baik. Anak yang dijauhkan dari bahasa menakut nakuti. Anak yang dididik dengan kebebasan dan kemampuan berbicara yang baik.
Jadi, sebagai orang tua, pemimpin, atau siapa saja anda yang mempunyai kuasa, hindarilah mempergunakan kalimat yang menakut nakuti, bahasa intimidatif, kata kata represif kalau memang anda menginginkan jiwa jiwa yang berani, berani berbicara, berani bersikap, berani berkata jujur, berani tidak berbohong dan berani menyampaikan kebenaran.
Tak ada kata lain……berhenti menakut nakuti.
berhenti mengintimidasi….dan berhenti membodohi.
Ed Zuhdi Darma


Koin yang tak punya gambar dan tak punya nilai nominal hanya berarti sebagai sebuah lempeng logam…harganya tergantung harga logamnya.Kalau kita ibaratkan manusia seperti uang logam, maka logam yang berbetuk koin adalah tubuh manusia yang sehat dan kuat, sedangkan kedua belah sisinya ibaarat iman dan akal. Ketiganya harus ada buat membentuk Orang Utuh.Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri. – Buya HamkaNah….kalau kita ingin menjadi orang utuh, isilah kedua belah sisinya dengan Iman disatu sisi dan Ilmu dan akal yang sehat disisi yang lainnya. Jangan sampai salah satu tidak ada, itu namanya ORANG SEBELAH 😊Selamat Pagi