BACAKAK JO GALANG GALANG


Ada pameo urang awak, begini bunyinya “daripado bacakak jo galang galang bia bacakak jo urang” pameo ini begitu dikenal, hampir oleh semua orang Minang, mengandung maksud bahwa perut, dalam arti makan, merupakan sesuatu yang sangat penting buat seorang manusia, bahkan dalam sebuah pameo lagi orang Minang berkata “kok lah panuah Sumatera Tengah, kok ka parang parang lah lai”.Kalau penuh Sumatera Tengah, kiasan lain dari perut, mau perang ayo.

Filosofis ini sangat bertentangan dengan filosofis orang jawa dulu, karena zaman sekarang nggak pas lagi digunakan ” mangan ora mangan sing penting ngumpul” karena menurut saya yang cocok sekarang apalagi di zaman Covid 19 ini “ngumpul ora ngumpul sing penting mangan”. Filosofis jawa dulu itu menurut saya “pro mudik” sedangkan filosofi yang terakhir “anti mudik” ๐Ÿ˜

Mengenai perut ini orang bule bilang
โ€œThe way to a manโ€™s heart is through his stomach.โ€ Jalan menuju hati (cinta) pria adalah melalui perutnya. Tak akan sanggup berpikir tentang cinta kalau perut kosong atau lapar…emang masih pakai pameo “kalau cinta melekat tahi kucing rasa coklat”?…ha..hay…makanlah tahi kucing tu.

Pentingnya perut, makanan atau pangan ini juga disadari oleh orang orang hebat dari dulu. Tak usahlah jauh jauh kita ambil contoh, kita ambil contoh terdekat saja. Mantan presiden kita Pak Suharto begitu perhatian dengan ketahan pangan, sehingga diksi swasembada pangan begitu ngetopnya di zaman ORBA. Kita yang sekolah ditahun 80 an tentu tidak asing dengan kata kata ini “Intensifikasi dan ekstensifikasi”, tujuannya tidak lain tidak bukan buat pemenuhan pangan rakyat Indonesia. Ini dibuktikan dengan penghargaan yang diterima dari FAO tahun 1984 atas keberhasilan kita berswasembada pangan, walaupun belakangan setelah ORBA runtuh beberapa pakar mengkritisi swasembada model pak Harto ini, penghargaan ini tetap menjadi indikator keberhasilan dan pengakuan dunia atas prestasi kita yang entah kapan akan tercapai lagi.

“Kuasai minyak, maka engkau akan menguasai bangsa- bangsa. Kuasai pangan, maka engkau akan menguasai rakyat”. Henry Kissinger, penasihat keamanan nasional dan mantan Menteri Luar negeri Amerika Serikat pernah melontarkan itu, mungkin filosofi ini juga yang melatar belakangi Amerika Serikat menebarkan Herbisida dalam perang Vietnam.

Begitulah, semenjak dahulu sekali para pemimpin dan jenderal jenderal perang sudah sangat menyadari bahwa makanan, pangan sangat penting, sejarah sudah menujukkan itu “Food is weapon”

Bagaimana peranan ketahanan pangan pada saat ini, saat wabah Covid 19 ini??
Seradikal apa langkah yang diambil suatu negara dalam menangan Covid 19 menurut saya akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana negara itu yakin dengan kemampuan memenuhi ketersediaan kebutuhan hidup dasar masyarakatnya, terutama pangan. Semakin yakin suatu negara dengan ketahanan pangannya, semakin keras dan radikal negara itu perang melawan Covid 19.

Bagaimana peranan ketahanan pangan di masa yang akan datang?
Tetap merupakan faktor penting, tak ร da guna gedung gedung gemerlap, jalan layang bersilang silang, industri maju, pertumbuhan ekonomi tinggi, kalau disekitar kita masih ada juga rakyat yang buat makan hari ini saja masih mikir apa yang mau dimakan. Tak ada kata lain menurut saya, dimasa depan pemimpin yang bisa menjamin dan mewujudkan tidak ada lagi orang yang susah memenuhi kebutuhan makanannya, kemudian sandangnya harus menjadi idaman kita semua.

Semoga