KOK TAKURUANG NAK DILUA, PSBB



Kalau pak DI melihat Covid 19 sebagai tirani minoritas, yang berusaha di dobrak oleh Dr.Andani dkk dengan Pool Test yang mereka lakukan, saya melihat pool test yang dilakukan sebagai internalisasi nilai nilai kearifan local Minangkabau pada diri Dr. Andani dkk.

Ada adagium di Minangkabau “Kok Takuruang nak dilua, kok taimpik nak diateh” ( terkurung maunya diluar, terhimpit maunya diatas). Orang yang tidak memahami typikal orang Minangkabau dan sifat orang Minangkabau mungkin akan melihat ini sebagai sesuatu perbuatan yang maunya menang sendiri, tidak mau mengalah, masa iya terkurung maunya diluar. Pemahaman seperti ini bukan saja ada pada orang orang non Minangkabau tetapi juga pada orang Minang sendiri.

Kalau kita lihat filosofinya kalimat ini “Kok taimpik nak diateh, kok takuruang nak dilua, sebenarnya mengandung makna yang baik sekali yaitu bagaimana sulitnya memimpin masyarakat yang jiwanya sangat kritis dan suka mengoreksi. Masyarakat yang walau dalam kesusahan tetap berusaha untuk tetap eksis, dalam pameo adat juga disampaikan “bajalan baduo nak ditangah bajalan surang nak dahulu”. Sesuatu yang tidak mungkin dipikirkan orang lain berusaha diwujudkan. Nilai nilai ini juga menginternalisasi pada semboyan Semen Padang “kami berbuat sebelum orang lain memikirkan”.

Prof. Irwan Prayitno sebagai Gubernur Sumbar dan juga sebagai seorang Penghulu adat Minangkabau sangat memahami filosofi ini, sehingga dengan sepenuh hati memberikan dukungan kepada Dr. Andani dkk untuk tidak dikungkung oleh tirani minoritas Covid 19, dengan usahanya melakukan Pool Test yang dimodifikasi untuk membebaskan beberapa daerah yang belum terpapar Covid 19 dari kungkungan PSBB.

Model “Pool Test” sample swab untuk Covid 19 dikembangkan Layanan Donor Darah Palang Merah Jerman di Frankfurt yang dipimpin oleh Profesor Erhard Seifried, dan Institut Virologi Medis di Rumah Sakit Universitas Frankfurt di Universitas Goethe yang dipimpin oleh Profesor Sandra Ciesek dengan tujuan meningkatkan kapasitas pengujian di seluruh dunia untuk percepatan penemuan dan deteksi SARS-CoV-2.

Dr. Andani dkk dengan cerdas malah merubah tujuannya, pool test dilakukan untuk maksud menemukan daerah yang benar benar tidak terpapar dengan covid 19, dan dilakukan pada daerah daerah yang belum ditemukan sama sekali kasus Covid 19 tetapi terkena kebijakan PSBB, sehingga kalau hasilnya negatif kebijakan PSBB untuk internal daerah tersebut bisa ditiadakan, bisa sembahyang taraweh jamaah, bisa sholat jumat dan kegiatan lainnya….cerdas 👍

Bagaimana metodenya? ini saya kutip dari Pak DI yang berhubungan langsung dg DR. Andani

https://www.disway.id/r/921/tirani-minoritas
…………………………………………………………………..
Satu pool terdiri dari 60 sampai 100 orang. Tergantung Kabupatennya. Mukus (cairan dari pangkal hidung/dekat tenggorokan) mereka dimasukkan tabung masing-masing. Yang di dalamnya sudah ada cairan kimianya. Sebut saja tabung ini sebagai tabung kelompok (Tabung K).
60 atau 100 tabung kolompok itu dibagi menjadi beberapa kelompok lebih kecil. Sebut saja menjadi sub kelompok.
Tiap sub kelompok terdiri dari lima tabung. Sebut saja tabung Sub Kelompok (Tabung SK).
Cairan yang sudah tercampur mukus di 5 tabung SK tadi dikurangi dulu masing-masing sebanyak 20uml. Untuk dijadikan satu –dimasukkan ke dalam satu tabung. Sebut saja tabung subnya sub-kelompok (Tabung SSK). Berarti di satu tabung SSK ini berisi 100 uml mukus dari lima tabung SK.
Yang dites di laboratorium adalah mukus yang di satu tabung SSK tadi.
Kalau satu tabung ini hasilnya negatif, maka 5 tabung SK dan 64 tabung K tidak perlu lagi dites. Berarti 60 atau 100 orang yang ikut pool test tersebut negatif semua.
………………………………………………………………….

Buat saya pribadi apapun hasil tidak begitu penting , saya hanya berbangga para kawan kawan Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang tetap berusaha kritis tidak menyerah dengan keadaan begitu saja tetap berusaha mencari solusi, tetap berusaha keluar walaupun sudah terkurung, tetap berusaha keatas walau sudah terhimpit.

Masyarakat Sumatera Barat perlu menyadari bahwa perang ini adalah perang bersama, Dr. Andani dkk berperang dengan peralatan labor dan pool testnya, Petugas medis berperang di Rumah Sakit, Aparat keamanan berperang dijalanan dan ditengah masyarakat, Masyarakat sendiri juga turut berperang dengan mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka memberantas Covid 19 ini, marilah alua samo dituruik limbago samo dituang, marilah barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.

Kami dirantau berharap Sumatera Barat bisa memenangkan pertarungan besar ini dan semua kita harus yakin “dibaliak panurunan ado pandakian, dibaliak pandakian pasti ado panurunan” “ndak ado kusui nan indak kasalai”.

Semoga
Ed Zuhdi Darma
Orang Minang yang tidak bisa mudik Lebaran😢

BACAKAK JO GALANG GALANG


Ada pameo urang awak, begini bunyinya “daripado bacakak jo galang galang bia bacakak jo urang” pameo ini begitu dikenal, hampir oleh semua orang Minang, mengandung maksud bahwa perut, dalam arti makan, merupakan sesuatu yang sangat penting buat seorang manusia, bahkan dalam sebuah pameo lagi orang Minang berkata “kok lah panuah Sumatera Tengah, kok ka parang parang lah lai”.Kalau penuh Sumatera Tengah, kiasan lain dari perut, mau perang ayo.

Filosofis ini sangat bertentangan dengan filosofis orang jawa dulu, karena zaman sekarang nggak pas lagi digunakan ” mangan ora mangan sing penting ngumpul” karena menurut saya yang cocok sekarang apalagi di zaman Covid 19 ini “ngumpul ora ngumpul sing penting mangan”. Filosofis jawa dulu itu menurut saya “pro mudik” sedangkan filosofi yang terakhir “anti mudik” 😁

Mengenai perut ini orang bule bilang
“The way to a man’s heart is through his stomach.” Jalan menuju hati (cinta) pria adalah melalui perutnya. Tak akan sanggup berpikir tentang cinta kalau perut kosong atau lapar…emang masih pakai pameo “kalau cinta melekat tahi kucing rasa coklat”?…ha..hay…makanlah tahi kucing tu.

Pentingnya perut, makanan atau pangan ini juga disadari oleh orang orang hebat dari dulu. Tak usahlah jauh jauh kita ambil contoh, kita ambil contoh terdekat saja. Mantan presiden kita Pak Suharto begitu perhatian dengan ketahan pangan, sehingga diksi swasembada pangan begitu ngetopnya di zaman ORBA. Kita yang sekolah ditahun 80 an tentu tidak asing dengan kata kata ini “Intensifikasi dan ekstensifikasi”, tujuannya tidak lain tidak bukan buat pemenuhan pangan rakyat Indonesia. Ini dibuktikan dengan penghargaan yang diterima dari FAO tahun 1984 atas keberhasilan kita berswasembada pangan, walaupun belakangan setelah ORBA runtuh beberapa pakar mengkritisi swasembada model pak Harto ini, penghargaan ini tetap menjadi indikator keberhasilan dan pengakuan dunia atas prestasi kita yang entah kapan akan tercapai lagi.

“Kuasai minyak, maka engkau akan menguasai bangsa- bangsa. Kuasai pangan, maka engkau akan menguasai rakyat”. Henry Kissinger, penasihat keamanan nasional dan mantan Menteri Luar negeri Amerika Serikat pernah melontarkan itu, mungkin filosofi ini juga yang melatar belakangi Amerika Serikat menebarkan Herbisida dalam perang Vietnam.

Begitulah, semenjak dahulu sekali para pemimpin dan jenderal jenderal perang sudah sangat menyadari bahwa makanan, pangan sangat penting, sejarah sudah menujukkan itu “Food is weapon”

Bagaimana peranan ketahanan pangan pada saat ini, saat wabah Covid 19 ini??
Seradikal apa langkah yang diambil suatu negara dalam menangan Covid 19 menurut saya akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana negara itu yakin dengan kemampuan memenuhi ketersediaan kebutuhan hidup dasar masyarakatnya, terutama pangan. Semakin yakin suatu negara dengan ketahanan pangannya, semakin keras dan radikal negara itu perang melawan Covid 19.

Bagaimana peranan ketahanan pangan di masa yang akan datang?
Tetap merupakan faktor penting, tak àda guna gedung gedung gemerlap, jalan layang bersilang silang, industri maju, pertumbuhan ekonomi tinggi, kalau disekitar kita masih ada juga rakyat yang buat makan hari ini saja masih mikir apa yang mau dimakan. Tak ada kata lain menurut saya, dimasa depan pemimpin yang bisa menjamin dan mewujudkan tidak ada lagi orang yang susah memenuhi kebutuhan makanannya, kemudian sandangnya harus menjadi idaman kita semua.

Semoga

PESEK


Kalau kuraba raba hidung ku, memang bolehlah dikategorikan pesek, naiknya cuma dikit, kalau tidak akan dikatakan datar. Abangku menyebutnya Manclem, mancung kedalem 😁

Waktu kecil masih ingat, keluarga dirumah sering mencandai “Ed…mana hidungnya” aku akan jawab “digiliang oto APD” ( kelindes bus APD) APD waktu itu bus yg cukup top ditempat ku. 🤣

Tapi hidung pesek rasanya nggak pernah menjadi masalah, enjoy aja lagi, proporsionallah untuk tipe wajah seperti ini.

Nah sewaktu menikah…entah kenapa dapat Istri Lola Susianti yang hidungnya mancung, kalau buat ukuran Indonesia mancungnya diatas rata rata orang Indonesia, dapat anak laki Muhammad Thariq juga hidungnya bukan kayak hidungku, lebih mancung. Jadilah aku menjadi bahan candaan mereka berdua 🤣😁…pesek…pesek 😡

Tapi sekarang, aku boleh berbangga sedikit dengan istri, kenapa??

Sepulang praktek malam tadi, dia mengeluh “lihat pa…hidungnya lecet nih 😥”, dilihat memang hidungnya lecet memerah. Rupanya karena kami sekarang praktek dengan APD komplit dengan masker N95, hidung istri yang ketinggian jadi lecet karena lama bergesekan dengan logam yang ada dipuncak masker N95. Kuperiksa hidung sendiri eh 😁 ternyata aman aman saja tidak lecet sama sekali dan juga tidak nyeri 🤣.
Selain itu masker N95 yang orang pesek pakai, lebih mantap nempelnya dibanding N95 yang dipakai istriku yang mancung, banyak celah…ini kan potensial merugikan, untuk itu harus didobel dengan masker bedah.

Jadi buat petugas kesehatan siapa saja…..saat ini berbahagialah jadi orang pesek, karena pesek membuat N95 lebih aman nangkring dihidung anda, nggak bikin sakit, nggak bikin lecet…..😍. Apapun yang dikasih Tuhan, tetap ada hikmahnya 🙏

Ayo sapa yang pesek….unjuk hidung😬😬
Hidup pesek…..merdeka💪💪 berantas corona💪💪