PRIMUM NON NOCERE


PRIMUM, NON NOCERE DI ERA COVID 19

Setiap dokter dan mahasiswa kedokteran harus paham diktum ini, karena ini pasti diajarkan ketika seseorang memasuki Fakultas Kedokteran

Primum non nocere kalau dalam bahasa Inggris disebut First Do No Harm, dalam bahasa Indonesia bisa diartikan Pertama!! Jangan membahayakan atau jangan memperparah keadaan. Siapa yang dibahayakan atau siapa yang diperparah??..dalam diktum ini jelas Manusia yang menjadi objek profesi dokter.

Seorang dokter harus melihat pasien secara holistik, menyeluruh, tidak semata kesehatan pisiknya saja, tetapi kenyamanan dan psikologis pasien juga harus menjadi perhatian, mereka juga harus dihormati atas hak haknya dalam memilih tindakan yang akan dilakukan kepada mereka. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai objek semata tanpa bisa melakukan tawar menawar dengan dokter atau pengambil kebijakan lainnya. Hak hak mereka tetap harus dihormati karena itu dijamin oleh Undang Undang.

Bagaimana di era Covid 19 sekarang??
Seperti kita ketahui, Covid bukan lagi menjadi masalah kesehatan individu tetapi Covid sudah menjadi Pandemi. Hampir tidak ada lagi negara didunia yang bebas dari Covid ini.
Selain peranan Ilmu Kedokteran yang fokus kepada penanganan Individu sakit, yang tak kalah pentingnya pada pemberantasan Covid 19 ini adalah pendekatan Epidemiologi, bahkan mungkin ini harus menjadi prioritas utama.

Perbedaan antara ilmu kedokteran dengan ilmu epidemiologi terletak pada cara penanganan masalah kesehatan. Ilmu kedokteran menekankan pada pelayanan kasus demi kasus sedangkan epidemioogi menekankan pada kelompok individu dan masyarakat. Oleh karena itu, selain membutuhkan ilmu kedokteran, epidemiologi juga membutuhkan disiplin lmu-ilmu lain seperti demografi, sosiologi, antropologi, geologi, lingkungan fisik, ekonomi, budaya dan statiska dan yang lebih penting saat ini epidemiologi akan sangat bermanfaat kalau ada dukungan politik.

Walau berbagai pendekatan selain kedokteran yang dilakukan dalam penanganan Covid 19 ini, epidemiologi, demografi, sosiologi, antropologi ekonomi dan budaya serta lainnya, menurut saya pendekatan kedokteran dalam hal ini interaksi antara dokter pasien tetap menjadi pertimbangan utama. Pasien penderita Covid 19, PDP atau OTG dan ODP harus betul betul menjadi fokus utama, jangan mereka hanya dijadikan objek sasaran kegiatan besar “berantas covid 19” tetapi dilanggar hak haknya.

Kalau selama ini yang teguh memegang Prinsip “PRIMUM NON NOCERE” hanya dokter saja, karena berhubungan dengan sumpah dan etika, di era pandemi Covid 19 ini, seluruh Stake Holder yang turut andil dalam kerja besar ini juga harus memperhatikan prinsip ini.

Apa tindakan “PRIMUM, NON NOCERE” yang bisa kita terapkan bersama??

Seseorang yang positif rapid test Covid 19, belum tentu sakit dan belum tentu menderita Covid 19, tetapi walaupun begitu ketika mereka mengetahui bahwa mereka Positif Rapid test, secara psikologis mereka sudah dihantam beban berat, ketakutan dan stress yang bisa jadi akan semakin menurunkan daya tahan tubuh mereka. Begitu juga dengan OTG dan PDP ringan. Pada tahap ini seharusnya sesuai dengan rekomendasi Dokter dan pedoman penanganan Covid 19 Kemenkes mereka bisa isolasi mandiri dirumah tak perlu di rumah sakit. Menempatkan mereka dirumah sakit hanya akan memperberat stressor yang mereka terima, apalagi perubahan suasana dengan rumah mereka.Hal ini bisa menurunkan daya tahan tubuh dan potensi tertulari penyakit lain di Rumah Sakit. Atau bisa jadi mereka yang sebenarnya bukan Covid 19 tetapi karena ODP dan PDP ringan ditempatkan diisolasi RS akhirnya menjadi Positif Covid 19, itu bisa saja terjadi.

Menempatkan mereka di RS tanpa meminta pertimbangan mereka, walau mereka sebenarnya lebih nyaman dirumah, dan rumahnya memang memungkinkan juga buat isolasi mandiri, dan mereka juga berkomitmen melaksanakan segala aturan isolasi mandiri, menurut saya kita sudah melangkahi adagium “PRIMUM NON NOCERE” tadi .

Sebagai masyarakat, tetangga, teman satu kantor apa yang bisa kita lakukan??

Jangan bikin mereka para ODP, PDP dan OTG ini semakin menderita dengan mengintimidasi mereka, seperti mereka barang menakutkan yang harus disingkarkan dari lingkungan kita. Bantu mereka mendapatkan suasana nyaman, suasana diperhatikan sehingga suasana kebatinanan mereka menjadi nyaman dan ini tentu berpengaruh kepada imunitas mereka.

Aparat pemerintah mulai dari level yang terendah sampai level yang tertinggi, aparat kemanan, petugas kesehatan dilapangan harus bisa memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak paranoia berlebihan dalam menyikapi adanya kasus ini ditengah temgah mereka.

Jadikanlah Rumah Sakit betul betul sarana buat Isolasi pasien Covid 19 terkonfirmasi, sedangkan pasien ODP, PDP ringan, OTG serahkan memutuskan kepada mereka bisa diisolasi mandiri dirumah atau kalau tidak memungkinkan dirumah diisolasi disuatu tempat yang memungkinkan dipantau secara terus menerus oleh para petugas, tapi bukan di Rumah Sakit

TAKAH, TAGEH DAN TOKOH( Harus pakai ….H, ….H, ….H )



Pilkada dan Pilgub akan berlangsung dibeberapa daerah, termasuk didaerah Sumbar asal saya dan daerah tempatan saya sekarang, daerah Jambi yang saya cintai. Akan memanas politik diberbagai daerah tentunya, masing masing tentu menggadang gadang calonnya. Setiap hari kita sudah melihat tim hore hore sudah menjual jagoannya, dan mengkampanyekan kalau jagoannya adalah yang nomer satu.

Sebagai Etnis yang begitu kaya dengan kearifan lokal, ada pedoman dalam memilih pemimpin bagi masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minang melihat pada TAKAH, TAGEH, dan TOKOH seseorang atau yang lebih dikenal dengan 3T. Pemimpin yang punya kriteria tersebut akan dinilai lebih punya persyaratan ideal menjadi pemimpin.

TAKAH, TAGEH (TOGEH), TOKOH, 3T adalah sesuatu yang diidamkan ada pada pemimpin oleh orang Minang, tetapi sangat anti dengan 3T tanpa H, “Harus pakai H…H…H seperti judul tulisan diatas. Kalau tanpa H maka orang Minang sangat tidak suka, apa itu….. yaitu TAKA, TOGE dan TOKO, 3T juga.

TAKAH adalah performance, penampilan, penampakan. Orang yang enak dipandang, punya kharisma dan wibawa disebut ‘manakah’. Takah bukan berarti gagah atau cantik, belum tentu orang gagah atau cantik adalah orang yang takah. Orang yang gagah atau cantik belum tentu terlihat cerdas atau berwibawa. Orang Minang dalam percakapan sehari hari akan berucap ” ndak ado potongan nyo ntuak jadi pemimpin do, ndak manakah”.

TAKAH tanpa H, maka akan menjadi. TAKA artinya seperti, mirip. Orang Minang menurut pengamatan saya tidak suka dengan pemimpin yang memirip miripkan dirinya dengan seseorang. Lebih suka melihat pemimpim itu asli dia apa adanya, tidak dibuat buat. Ini juga berarti tidak menyukai pemimpin yang hanya mengekor atau menjadi pengikut (follower) tetapi sangat mudah simpati dengan pemimpim yang melakukan sesuatu yang baru atau inovasi yang berbeda dengan orang lain. Ini bisa kita buktikan bahwa di Sumbar tidak ada partai yang bisa bertahan lama menjadi pemuncak, bila partai tersebut tidak lagi menawarkan sesuatu yg baru, yang gayanya itu keitu saja, akan ditinggalkan.

TAGEH, dalam dialek beberapa daerah di Minang dibaca juga TOGEH, adalah Tegas. Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap tegas dan bijaksana, dalam adagium adat disebutkan “Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati” ( Alu terbentur patah tiga, semut terinjak tidak mati ) artinya seorang pemimpin itu harus tegas dalam bertindak, alu tataruang patah tigo, tapi walaupun begitu dia harus bijaksana sehingga semut kalau terinjakpun oleh dia tak akan mati, ini bahasa kiasan. Tapi harus diingat, tageh bukan berarti keras atau kasar, orang Minang tidak akan suka dengan pemimpin yang kasar, apalagi kalau mulutnya kotor.

Kalau TOGEH dibuang H nya, maka akan menjadi TOGE dalam bahasa percakapan ini adalah kependekan dari Tampang Ongok Gaya Ele, jelas tak akan menimbulkan simpati. Kalau melihat arti sesungguhnya Toge atau Tauge adalah tumbuhan yang timbul dalam waktu yang singkat, 3 hari setelah disemai batangnya akan timbul, tetapi kekuatannya tidak ada sama sekali bahkan cepat menjadi busuk kalau setelah dicabut tidak segera dimasak. Untuk melontarkan kekesalannya kadang kadang orang Minang bicara begini “eii panjeklah dek ang batang toge tu”…artinya melakukan pekerjaan yang sia sia dan tak mungkin.
Buat orang Minangkabau pemimpin itu diibaratkan sebagai beringin, pohonnya tinggi besar, berusia lama, kuat dan kokoh pepatah adat menyebutkan begini
“Baringin rindang ditangah koto, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, pucuaknyo cawang ka langik, dahannyo tampek bagantuang, daunnyo perak suaso, bungonya ambiak ka suntiang, buahnyo buliah dimakan, tampek bataduah katiko hujan, tampek balinduang katiko paneh”

TOKOH, tokoh dalam hal ini adalah tokoh masyarakat, bukan tokoh dalam pertunjukan sandiwara atau pewayangan.Tokoh masyarakat adalah orang-orang yang memiliki pengaruh di masyarakat, baik tokoh masyarakat yang dipilih secara formal, maupun yang didapatkan secara informal. Seorang tokoh masyarakat adalah seseorang yang memiliki posisi dalam lingkungan tertentu dan memiliki pengaruh besar. Mereka umumnya dianggap penting oleh masyarakat dan dekat dengan masyarakat. Buat menjadi seorang pemimpin orang Minang juga menganggap ini sesuatu yang penting, ketokohan seseorang didalam masyarakat akan menjadi faktor penting, kecil sekali kemungkinannya seseorang yang entah darimana asalnya, entah apa yang sudah dibuatnya untuk masyarakat tiba tiba muncul menjadi calon pemimpin, kalau adapun menurut pengalaman yang sudah sudah tidak akan mendapat dukungan yang bermakna.

TOKOH tanpa H maka akan menjadi TOKO. Toko adalah kedai tempat berjualan ,tempat menjual segala sesuatu. Seorang pemimpin yang mempunyai sifat toko tentu dalam pikirannya akan melakukan “galas” nya saja, kedudukan yang dia peroleh akan dipergunakannya untuk menggalas mencari keuntungan, jadi jangan heran setelah jadi pikirannya hanya jual ini jual itu, beli ini beli itu. Semua keputusan akan menjadi transaksional, untung rugi buat pribadi dan kelompok. Orang seperti ini akan berbuat sekehendak hati dan akan melakukan berbagai cara melancarkan jualannya. Kearifan Minang sangat tidak suka dengan sifat ini kalau menjadi pemimpin. Kalau menjadi orang yang memegang kekuasaan jangan berbuat sekehendak hati, kok gadang jan malendoh, panjang jan malindih, kok cadiak jan manjua.

Jadi siapakah yang mempunyai “Takah, tageh dan tokoh itu?” Itu semua kembali kepada selera masing masing, selera orang tidak sama, seperti pernah saya tulis kalau dikasih ikan maka akan berbeda cara mengolahnya orang Minang akan membuat asam padeh, orang Jambi mungkin akan menjadikannya tempoyak ikan, sedangkan orang Palembang tentu akan menjadikannya Pindang.
Apapun pilihan diharapkan tentunya dengan pertimbangan kearifan masing masing, tapi yang harus diingat bahwa memilih pemimpin hanyalah memilih Raja yang cuma “ditinggikan sarantiang, didahulukan salangkah”, bukan Raja yang segala titahnya adalah kebenaran. Pemilih harus punya keberanian buat mengkritisi pilihannya seperti kata pepatah “rajo alim rajo disambah rajo zalim rajo disanggah”.

Selamat pagi
Selamat menghadapi Pilkada di era Corona

**Buat saya pribadi, berharap pemimpin yg terpilih adalah yang punya sikap sigap tanggap dan bergerak taktis dalam menghadapi situasi sulit, termasuh situasi seperti wabah saat ini….sudahkah pemimpin anda seperti itu?