SEJARAH


Sejarah kata yang begitu populer akhir akhir ini, dimulai ketika Mbak Puan Maharani kepleset bicara, timbul reaksi dengan mengungkit peranan Suku Minangkabau dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan peranan tokoh tokoh Minangkabau dipentas Nasional maupun internasional.
Polemik semakin hangat ketika kementriannya Mas menteri Nadiem punya wacana untuk menjadikan sejarah hanya sebagai opsional diikuti oleh siswa.
Tanggal 30 September dan 1 Oktober ini Polemik tahunan sejarah Indonesia muncul lagi, tentang G30SPKI, dulu tidak pernah ada polemik ini, entah mengapa beberapa tahun belakangan semakin meruncing.

Buat saya sejarah sangatlah penting, karena “sejarah dapat menggambarkan kondisi dimasa lampau, untuk jadi pedoman dimasa sekarang dan masa yang akan datang” kata kata itu, lebih kurang, yang disampaikan oleh lelaki difoto kepada saya semasa kecil. Beliau selalu bercerita kepada saya tentang apa saja dimasa lalu, mulai sejarah Mesir Kuno sampai sejarah kampung saya, ada yang bisa saya serap ada yang tidak karena sudah lama sekali, dan usia saya juga masih kecil waktu itu. Selain itu kebiasaan beliau adalah mebawa buku apa saja kerumah buat dibaca kerumah. Kalau beliau pulang membawa buku, bukan menyerahkan kepada kita buat dibaca, tetapi meletakkan begitu saja di meja. Saya sekarang berfikir beliau sengaja melakukan itu, meletakkan dimeja ditempat yang mudah terlihat, supaya kami tertarik membaca. Nah…..ini yang saya tunggu tunggu, saya akan senang sekali bila beliau sudah bawa buku pulang, dan buku buku yang beliau bawa pulang waktu itu bukanlah buku buku kacangan seperti komik komik buat anak anak , tetapi buku buku yang mengandung nilai nilai sejarah. Buku Revokusi Iran karangan Nasir Tamara khatam saya baca waktu itu, Buku biografi Nasution Memenuhi Panggilan Tugas, buku buku sejarah Minangkabau. Bahkan buku buku fiksi berlatar sejarahpun beliau bawa pulang, Bumi Manusia karangan Pramudya salah satunya. Belakangan baru saya tahu bahwa buku itu waktu itu adalah buku yang dilarang beredar oleh ORBA, tetapi beliau tetap meletakkan di meja agar saya terpancing baca.

Efek dari kebiasaan beliau ini, beberapa anaknya sangat getol baca, walau tidak semua, dan beberapa cucunya juga punya kebiasaan baca yang intens. Jadi tidak heran, angka sembilan di Ijazah saya untuk mata pelajaran Sejarah bukan sesuatu yang aneh, walaupun saya dulunya anak Fisika :).

Bahkan saya rasa efek ini juga yang membuat kakak saya Afiah Dharma menjadi guru sejarah sampai saat ini, dan begitu mencintai sejarah bahkan ikut dalam penulisan sebuah buku sejarah, kalau nggak salah judulnya “Sejarah Tanah Datar”

Sekarang beliau sudah tiada, tetapi efek yang beliau timbulkan dari kebiasaan memancing kami untuk membaca masih terasa.

Walau beliau tak banyak berkata kata, saya mengambil kesimpulan, dengan perbuatan yang beliau lakukan kepada kami sebenarnya beliau sedang mengajarkan kepada kami, baca….baca….baca, sejarah, niscaya kalian tidak akan mudah dibawa kemana mana oleh orang orang yang punya niat buat memutar balikkan sejarah…..

Demikian.

  • Beliau Bapak saya, Darmawan Saad, yang meletakkan kata Darma dibelakang nama kami semua. Bapak sudah 14 tahun meninggalkan kami semua….Alfatihah buat Bapak…..

Tinggalkan komentar