PIL DUA WARNA


PIL DUA WARNA

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pepatah ini sangat benar menurut saya, karena memang saya mengalami sendiri, dan saya rasa kawan kawan lain juga mempunyai pengalaman yang bisa dijadikan pembelajaran.

Sewaktu pertama bertugas di Jambi, disebuah desa yang sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh dari kota Jambi, desa Jambi kecil sangat banyak pengalaman baru yang saya dapatkan yang sebelumnya di kampus hanya didapatkan melalui teori teori yang tak akan pernah kita pahami benar setelah kita lihat buktinya.

Pil dua warna adalah salah satu pengalaman saya.

Entah bagaimana di tempat saya bertugas ini, pil dua warna ini begitu top, kadang mereka menyebutnya pil Har***, sebuah fabrikan yang cukup punya nama dulu. Awal mula saya bertugas saya bingung juga dengan yang mereka sebut pil dua warna, setelah saya minta apa yang mereka maksud dan diperlihatkan, saya tahu bahwa yang mereka maksudkan salah satunya adalah pil yang sebenarnya tergolong obat keras.

Kombinasi dua pil ini begitu top, sehingga ada pasien saya yang menggunakan pil ini sebagai kebutuhan harian, makannyapun seperti sudah makan kacang goreng saja. Saya yakin pasien sampai ketagihan dengan kombinasi pil ini adalah akibat ulah petugas kesehatan, mantri, bidan, dan pasti dokter sendiri sebagai inisiator utama segala macam pengobatan yang kemudian ditiru oleh nakes lainnya.

Sewaktu ditanya ke pasien kenapa mereka mengkonsumsi pil ini, jawaban yang cukup mencengangkan adalah karena setelah mereka makan pil ini mereka merasa nafsu makan bertambah, badan terasa segar, tidur nyenyak, berat badan naik, menjadi lebih gemuk, dan mereka merasa kalau mereka tidak makan pil ini badan menjadi tidak segar.

Mereka datang biasanya dengan keluhan mual mual, kadang muntah, bahkan saya pernah menemukan dengan keluhan BAB berwarna hitam. Setelah ditelusuri ternyata sebagian besar sudah mengkonsumsi pil dua warna selama bertahun tahun, bahkan ada pasien saya waktu itu yang sudah mengkonsumsi kombinasi ini selama sepuluh tahun.

Tahukah kawan kawan bahwa pil itu adalah Dexamethason yang dikombinasi dengan salah satu anti alergi Chlorpheniramin maleas (CTM) atau Cyproheptadin. Yang tergolong obat keras adalah Dexamethason.

Dexamethasone adalah obat untuk mengatasi peradangan, reaksi alergi, dan dan penyakit autoimun. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,5 mg, sirup, suntikan (injeksi), dan tetes mata. Dexamethasone termasuk ke dalam golongan obat kortikosteroid. Dexamethasone bekerja dengan mengurangi peradangan dan menurunkan sistem kekebalan tubuh, sama seperti steroid yang dihasilkan oleh tubuh secara alami.

Nah…..indikasinya untuk peradangan terutama, kenapa sampai obat ini dipergunakan untuk menambah nafsu makan dan menaikkan berat badan? Ternyata peningkatan nafsu makan merupakan efek sampingan dari Dexamethason, apalagi bila dikombinasi dengan Cyproheptadin yang juga mempunyai efek apetite stimulan. Dan efek retensi ( menahan ) cairan yang dimiliki oleh dexametason membuat seseorang BB nya naik dan kelihatan lebih gemuk. Sedangkan efek samping yang lebih berbahaya bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama, sebagian besar masyarakat tidak mengetahuinya.

Mereka tidak tahu kalau itu obat keras, harus dengan resep dokter. Apalagi kalau dipakai dalam jangka panjang.

Mereka tidak tahu kalau dexamethason bersifat imunosupresan, menurunkan daya tahan tubuh, sehingga mudah terjadi infeksi lain.

Mereka tidak tahu kalau dexamethason menahan air didalam tubuh sehingga seseorang bertambah berat badan, muka lebih membulat. Mereka mengira mereka menjadi lebih sehat dan lebih gemuk mengkonsumsi obat ini, padahal itu cuma air 😬

Mereka tidak tahu bahwa dexamethason bisa mengiritasi lambung sehingga menimbulkan gangguan lambung/maag, bahkan sampai perdarahan lambung dan menyebabkan BAB menjadi hitam.

Mereka tidak tahu bahwa Dexamethason bersifat diabetogenik, cenderung meningkatkan kadar gula darah, apalagi kalau pada pasien diabetes.

Sangat banyak yang masyarakat tidak tahu, tetapi disayangkan kita kita yang harusnya tahu, dan bisa mencegah penyalahgunaan obat obatan ini justru membiarkan. Petugas kesehatan, Apotek, Regulator yang mengurus masalah obat obatan, pemerintah seolah olah tutup mata begitu saja dengan kondisi bebasnya obat obatan beredar dimasyatakat, tidak cuma dexamethason, masyarakat bisa mau membeli obat apa saja diapotek, bahkan bisa pesan online lagi.

Sehubungan hasil penelitian Universitas Oxford terkait penggunaan Deksametason menunjukkan penurunan kematian hanya pada kasus pasien COVID-19 yang berat yang menggunakan ventilator (alat bantu pernapasan) atau memerlukan bantuan oksigen. Obat ini tidak bermanfaat untuk kasus COVID-19 ringan dan sedang atau yang tidak dirawat di rumah sakit., dan untuk.perlu diingat Dexamethason atau kortikosteroid lain dari dulu sudah terbiasa digunakan oleh dokter untuk kondisi kondisi yang berat, bukan buat Covid saja. Tambahan lagi Dexamethason bukanlah obat yang membunuh Corona tetapi obat buat mengobati inflamasi yang terjadi ,termasuk inflamasi oleh virus Corona.

Saya tidak bermaksud untuk membantah hasil temuan para ilmuawan di Oxford ini, tetapi saya hanya mau menyapaikan jangan sampai narasi yang dibuat oleh media dan orang yang tidak mempunyai kapasitas dan kapabilitas melenceng dari inti yang sebenarnya dari penelitian ini.

Seluruh stake holder kesehatan harus memberi penjelasan mengenai ini, sehingga masyarakat bisa mengerti, dan tidak merasa pintar sendiri dalam pengobatan corona, apalagi saya meihat sudah banyak orang orang yang tidak berkompeten berbicara tentang manfaat Dexamethason ini.
Mari kita cegah kesalahan penerimaan informasi dimasyarakat agar tidak dimanfaatkan oleh orang orang yang mengambil keuntungan pribadi ditengah pandemi ini tanpa memikirkan dampak kepada masyarakat.

Mari kita kemon💪
Ed Zuhdi Darma
Masih diruang praktek

𝗡𝗔𝗡 𝗧𝗔𝗕𝗔𝗢 𝗗𝗘𝗞 𝗔𝗡𝗚𝗢𝗞


Tak ada yang bisa memungkiri bahwa orang Minang ( tentu tidak semua ) dari dulu diberi semacam predikat “pandai bersilat lidah”. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang Minang menjadi tokoh tokoh pergerakan kebangsaan yang berjuang melalui kata katanya, tulisannya, menjadi juru runding, memimpin organisasi, menjadi jurnalis…pokoknya yang berhubungan dengan kata kata dan mengolah kata kata. Sampai sekarangpun masih banyak menurut pengamatan saya.

Memang begitulah keahlian alamiah orang minang sepanjang yang saya amati. Kenapa bisa begitu??. Karena banyak kearifan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Minangkabau yang bermanifestasi dalam bentuk adagium adagium atau petatah petitih adat, yang menghendaki orang Minangkabau menjadi orang yang pandai memanfaatkan kata katanya, tetapi dengan menjaga norma norma dalam berbahasa.

Untuk dapat berkata kata dengan baik dan benar tentu harus mempunyai cukup ilmu dalam bidang yang akan dibicarakannya jangan sampai pengetahuan tidak cukup berfikir sebelum bicarapun tidak..”bapikia kapalang aka, baulemu kapalang paham”
Karena ilmu yang kurang, “raso pareso” tidak ada, pembicaraan yang keluar terkesan angkuh dan tidak memikirkan dampak atas kata kata yang dikeluarkan…” baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang”.

Dalam percakapan sehari hari kata kata yang dikeluarkan tanpa memikirkan dampaknya akan di cimooh oleh orang Minang…” Paja tu mangecek a nan tabaok dek angok se mah” ( dia berbicara apa yang keluar bersama nafasnya saja ). Artinya kata yang keluar dari mulutnya, keluar tanpa dipikirkan, seperti bernafas, kan tak perlu mikir sama sekali☺.

Nah….sekarang kawan kawan saya, kalau mau bicara mikir dulu ya….jangan bicara “A NAN TABAOK DEK ANGOK” saja…

Selamat Sore
Ed Zuhdi Darma
Yang harus masih banyak belajar menjaga kata.

MENDENGAR


MENDENGAR

Dua hari yang lalu saya pergi ke bengkel, karena mobil saya sudah harus servis rutin berkala. Kebetulan di era Corona ini dokter mendapat previllege gratis servis mobil dan ganti oli mesin, lumayankan…terimaksih Corona…eh salah, terimakasih Honda.

Sewaktu menunggu mobil di service, di sebelah saya duduk, maksudnya disebelah kursi yang pakai tanda silang disebelah kursi saya ( Phisical dystancing Coy ) duduk seorang bapak dengan istrinya yang dibatasi oleh kursi bertanda silang pula.

Mulai saya masuk si bapak dan ibu tadi sudah lihat lihat saya, dan saya juga lihat lihat mereka, tapi tak bertegur sapa, karena merasa tak saling kenal. Apalagi masing masing muka ditutupi oleh masker. Bapak ini malah pakai masker yang menutupi hampir sluruh bagian bawah mukanya. Kami duduk ditempat masing masing sambil ngulik ngulik HP.

Setelah beberapa saat menunggu saya bertanya kepada petugas, ” Mas , mobil saya sudah selesai belum ya”. ” Sebentar pak saya lihat dulu” jawab petugas.

Ketika saya berbalik, mau duduk kembali dikursi tunggu, bapak yang disebalah saya tadi langsung menyapa…”Pak Dokter, service juga ya, nggak ke Rumah Sakit pak?”. Suaranya suara yang akrab ditelinga saya yang selalu terngiang ngiang…….nah ini, terngiang ngiang diruang praktek. Suara ini suara pasien saya 😊. “Saya mengenal bapak karena suara pak dokter tadi ngomong dengan petugas” katanya. ” Saya juga pak, langsung konek dengan suara bapak setelah bapak menegur saya” balas saya.

Akhirnya kami terlibat percakapan kehulu kehilir tentang banyak hal, tentang Corona, tentang pemerintah, tentang perangai masyarakat yang mulai cuek menghadapi Corona, sehingga tak terasa pekerjaan menunggu yang biasanya membosankan jadi berlalu tanpa terasa.

Ternyata kebiasaan mendengar dengan baik, sampai ke intonasi orang bicara punya manfaat banyak, termasuk pada era Corona ini. Suara ternyata lebih sensitif dan tertinggal lebih lama didalam memori disamping penglihatan. Bahkan konon kabarnya ( saya tidak tahu pasti, mohon pencerahan oleh yg tahu ) indera yang terakhir berhenti berfungsi pada seseorang dalam fase terminal akhir kehidupannya adalah pendengaran?.

Semoga kita semakin banyak mendengar, disamping melihat. Jangan terus terusan kita harus didengar, hilangkan egoisme pribadi dan perasaan berkuasa sehingga kita lupa mendengar orang lain.

Semoga..
Ed Zuhdi Darma
Masih belajar dan berusaha menjadi oendengar yang baik.