GAGAL HAJI


GAGAL HAJI

Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah SWT berdua dengan istri untuk menunaikan ibadah Haji pada tahun 2010. Berangkat haji bukan karena sudah kaya, bahkan duit tersisa di tabungan setelah mendaftar Haji th 2007 hanya 5 juta rupiah waktu itu. Sempat khawatir, kalau tiba tiba harus berangkat, duit darimana buat melunasi biaya keberangkatan. Allah Arrahman, Arrahim, Arrazaq, MasyaAllah setelah pendaftaran rezeki mengalir sehingga kekhawatiran yang sempat terbersit tidak terjadi sampai dengan keberangkatan tahun 2010.

Setiap Muslim, baligh, berakal, sehat, merdeka dan mampu dari segi kesehatan, keamanan perjalanan dan finansial baik sebagai bekal maupun untuk keluarga yang ditinggalkan, wajib mengerjakan Haji. Ukuran mampu finansial bukanlah kaya dengan harta yang berlimpah. Sehingga sewaktu haji adalah bukan hal yang mengherankan kita bertemu dengan orang orang kecil seperti pedagang asongan, tukang becak dan profesi lainnya yang tidak akan membuat mereka kaya tetapi mereka mampu untuk menunaikan ibadah haji.

Bahagian terbesar jamaah haji ini adalah orang orang kecil yang jauh dari ukuran orang kaya. Ada mereka yang menabung sekian tahun untuk mengerjakan ibadah haji, ada yang baru dapat pesangon setelah pensiun baru bisa mengerjakan ibadah haji. Bahkan sewaktu saya mengerjakan ibadah haji saya bertemu dengan seorang kakek kakek pedagang asongan yang telah menabung berpuluh tahun untuk mengerjakan ibadah Haji. Alangkah besarnya pengharapan orang orang seperti ini buat berhaji ke Mekkah.

Kepada siapa harapan mereka gantungkan supaya niat mereka buat mengerjakan ibadah Haji terlaksana??
Kepada pemerintah, tidak ada tempat lain, pemerintahlah yang harus bertanggung jawab supaya rakyat terjamin haknya untuk melaksanakan ajaran agamanya, dan ini sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar kita.

Berdasar pengalaman saya menunaikan ibadah Haji, apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dari dulu sebenarnya sudah luar biasa sekali. Bayangkan mengelola 200 ribu lebih jemaah dengan usia yang rata rata bukan muda lagi untuk untuk melaksanakan segala kegiatan haji, mulai dari persiapan keberangkatan sampai dengan kembali lagi ke tanah air setelah mengerjakan ibadah haji, bukanlah pekerjaan yang ringan. Hal yang pemerintah lakukan menurut saya sangat bagus dari segi keteraturan, tetapi perlu peningkatan dari segi kualitas

Kenapa perlu peningkatan dari segi kualitas??
Begini…..

Penginapan yang jauh dari Masjidil Haram memberatkan jemaah yang sudah berusia lanjut untuk Sholat setiap waktu ke Masjidil Haram. Sewaktu kami menunaikan ibadah Haji penginapan kami berjarak 8 Km dari Masjidil Haram, 2 kali naik bus, atau kalau menggunakan omprengan cukup 1 kali, sehingga mbah mbah yamg sudah berusia lanjut tidak bisa setiap waktu ke Masjidil Haram. Waktu itu kami cukup iri dengan Makhtab jemaah Malaysia yang sangat dekat ke Masjid baik di Madinah maupun di Mekkah, padahal ONH antara kedua negara tidak terlalu jauh berbeda.

Bus yang kami pergunakan cukup laik jalan, tetapi kalau dilihat dari tampilan bus nya, saya yakin bus yang dipergunakan adalah bus yang sudah berusia lanjut, bukan bus terbaru yang sangat banyak berseliweran di jalan jalan antara Makkah dan Madinah. Saya melihat kenyamanan bus jamaah kita pergunakan masih belum maksimal. Saya yakin kalau bus Jamah kita berdampingan dengan bus negara tetangga saat itu bus Jamaah kita akan minder 😀

Bimbingan dari pembimbing yang disediakan oleh Kementrian agama tidak maksimal, pembimbing kami sepertinya juga kagok dengan situasi di Makkah dan Madinah, karena mungkin mereka belum berpengalaman.

Kualitas penginapan cukup lumayan, tetapi waktu itu di Mekkah sampai dijejali 1 kamar 6 orang, dengan luas kamar kira kira 4×5 meter. Menurut saya ini terlalu dipaksakan dan kurang manusiawi.

Saya mendengar bahwa semakin banyak perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah dalam penatalaksaaan Haji setiap tahunnya, tapi tetap kesan dari jamaah bahwa pelayanan yang diterima oleh Jamaah negara tetangga tetap lebih baik dibanding negara kita. Pembandingan ini menurut saya wajar saja, bisa dijadikan sebagai pemicu pemerintah untuk memberikan yang terbaik kepada para Jamaah Haji Indonesia, karena dengan jumlah jamaah yang begitu besar, dan jumlah uang yang tentu juga lebih besar sebenarnya negara kita mempunyai posisi tawar yang lebih bagus terhadap Arab Saudi di banding negara tetangga kita.

Pandemi tahun yang lalu membuyarkan harapan jemaah Indonesia untuk menunaikan ibadah Haji. Kegagalan menunaikan ibadah Haji ini bisa dimaklumi karena memang pemerintah Arab Saudi yang membatalkan pelaksanaan ibadah Haji untuk jamaah dari luar Arab Saudi. Haji hanya untuk masyarakat Arab Saudi dan warga Asing yang memang bermukim di Arab Saudi.

Tahun ini ternyata menteri agama kembali menyatakan Indonesia tidak akan mengirim jamaah Haji ke tanah suci. SubhanAllah, beliau menyampaikan ini karena mengingat Pandemi dan keamanan Jiwa jamaah Haji, juga karena belum ada kejelasan dari Saudi Arabia.

Saya masih ingat pak Menteri agama adalah menteri yang “Die Harder” untuk kasus kasus “intoleransi dan radikal” di Indonesia, kadang beliau berpidato dengan berapi api bahwa tidak ada tempat buat kaum intoleran dan radikal di bumi Indonesia dan NKRI harga mati. Ini biasanya oleh para kurcaci kurcaci Arabphobia diiringi dengan hujatan kepada “Arab” dengan kata kata kadrun, Ngarab, ejekan ejekan kepada cara berpakaian, jenggot, dan lain sebagainya.

Menurut saya NKRI harga mati itu juga bermakna bahwa seluruh kepentingan rakyat NKRI harus diperjuangkan mati matian, sampai tetes darah terakhir. Muslim yang jumlahnya 80 persen lebih adalah bagian terbesar dari rakyat NKRI ini. Memperjuangkan kepentingan muslim buat menunaikan ibadah haji habis habisan adalah bentuk perwujudan NKRI harga mati….itu menurut saya 😀

Masih mudah diingat, sangat sering kita dengar dari pemuka agama bahwa Islam Indonesia adalah Islam terbaik, bahkan Islam kita lebih bagus dari Islam Arab!!
Islam kita bukan Islam Arab. Pikiran bodoh saya kadang kadang bertanya, apakah terlalu tinggi hati kita untuk meloby Saudi yang punya wilayah Mekkah dan Madinah, penjaga dua tanah suci, sementara kita menganggap cara beragama kita lebih bagus dari mereka??
Entahlah……

Pak!!!!
Buktikanlah pak bahwa kita adalah Islam terbaik, kita adalah Islam yang seharusnya dihargai, karena kita jumlah Islamnya terbesar, Islam kita Islam Rahmatan lil Alamiin. Dulu kita adalah negara dengan penduduk beragama Islam yang menjadi pemimpin dan dihormati negara negara Asia Afrika, Negara negara Non Blok, negara negara OKI. Mereka, Arab Saudi harus menghargai itu.

Sudahkah kita berjuang mati matian? dengan loby loby tingkat tinggi kepada pemerintah Arab Saudi ?? Saya tidak tahu apakah bapak bapak sudah melakukannya. Yang saya tahu Arab Saudi belum menentukan apa apa buat pelaksanaan ibadah Haji tahun ini, kita Indonesia sudah mengangkat bendera putih tanda menyerah.

Saya hanya sedih mendengar pasien saya yang duduk dengan wajah sendu didepan saya diruang periksa, dan dia bercerita tentang kegagalan menunaikan ibadah Haji tahun ini.

“Entah tahun depan usia masih ada dan diberi kesempatan buat menunaikan ibadah haji dok” Bapak tua pasien saya terlihat berkaca kaca.
Saya sangat memahami perasaannya, kekecewaannya, tapi apa yang bisa dilakukan??

Hanya bisa berharap, tahun depan pemerintah kita lebih percaya diri buat melobi Saudi Arabia, tentunya bukan dengan lobi ecek ecek tapi dengan loby tingkat tinggi bahkan kalau diperlukan mungkin antar kepala negara.

Saya berharap diruang praktek saya bisa kembali bertemu dengan bapak kemaren dan dia berucap
“Alhamdulillah dok, akhirnya tahun ini saya bisa berangkat”
Terlihat senyum cerah dan wajah bahagianya….aamiin

Demikianlah, kita rakyat hanya bisa berharap, semoga ditahun mendatang jamaah yang antri untuk berhaji bisa tersenyum cerah karena cita cita mereka menjejakkan kaki di dua Tanah Suci buat menunaikan Rukun Islam bisa terlaksana…..

Aamiin ya Rabbal Alaamiin.

INSPEKTUR VIJAY DAN TUAN TAKUR DITENGAH CORONA


India adalah sebuah negara, bangsa, yang banyak kelebihannya.
Peradaban kuno dunia salah satunya ada di India Mohenjodaro dan Harappa.

Orang Indonesia saat ini juga memberikan stigma tertentu atas kelebihan India ini ndak percaya?? bisa kawan lihat bukti bukti dibawah ini..

Stigma untuk Polisi sering terlambat mengambil tindakan, konyol entah mengapa diberikan kepada Polisi India, Inspektur Vijay, sehingga Polisi India menjadi ikon kekonyolan Polisi. Walaupun digambarkan baik, tetapi Polsi India biasanya datang setelah permasalahan selesai, nan mereka tinggal borgol penjahatnya :D.

Banyak orang kaya di dunia, diseluruh dunia, entah mengapa untuk mengambarkan kekayaan dan keuasaan yang sangat besar orang Indonesia menyematkannya kepada orang kaya India…Tuan Takur 😀 Tuan Takur alias tuan tanah dengan segala aksesnya yang kuat dengan kekuasaan, khasnya politisi yang memainkan peran sebagai penyelenggara negara, selalu digambarkan sebagai sosok yang kekuasaannya melebihi kekuasaan penyelenggara negara.

Untuk kecantikan orang Indonesia dulu mempunyai standar boneka India 😀 , wuuih cantiknya seperti boneka India, apa emang cuma boneka India yang cantik ya…padahal semua boneka umunya terlihat cantik, keculai boneka yang Top zaman sekarang Chucky, itu mah horor dan bukan dari India.

Begitulah kawan kawan, dari dulu sesuatu yang wah, wah kekonyolannya, wah kekuasaannya, wah kecantikannya entah kenapa sering disematkan kepada India.

Dizaman Pandemi ini, kalau kita baca adalah ke” lebay ” an India juga yang membawa India kepada petaka besar saat ini, gelombang Pandemi yang semakin meninggi. Pakar menyebut sejumlah penyebab membuat kasus menyebar cepat pada gelombang kedua di India. Mulai dari acara keagamaan dengan kerumunan yang besar, dibukanya kembali tempat publik, dan juga kampanye politik yang mulai berlangsung, kepatuhan yang sangat minim sekali terhadap protokol kesehatan di India. Akibatnya kasus Covid India tembus mencapai lebih 200 ribu kasus perhari dengan kematian perhari yang mencapai 2000 kasus.

Berkaca kepada kasus India, bagaimana dengan Indonesia??

Indonesia potensial pula mengalami hal yang sama dengan India, secara alamiah orang Indonesia adalah penggemar India dari jaman baheula, bukankah kebudayaan kebudayaan Indonesia banyak terpengaruh India??. Sering terlambat bertindak, acuh dengan protokol kesehatan, kampanye ( walaupun bukan musim kampanye ) politik yang melibatkan massa, acara acara keagamaan yang tanpa protokol, ruang ruang publik yang penuh membludak, apalagi ini mau menghadapi mudik pulang kampung dan lebaran, itu semua potensial menghasilkan kejadian seperti di India.

Untuk menghindari itu semua tidak ada cara lain, apa apa yang sudah kita buat, dan kita sepakati laksanakan!!! Protokol kesehatan sudah jelas aturannya, pembatasan mudik sudah jelas perintahnya. Kelemahan kita selama ini hanya terlalu banyak menuliskan tetapi terlalu banyak pemaafan untuk yang tidak melaksanakan apa yang dituliskan. Jangan sampai gara gara itu kita diterpa gelombang Pandemi yang semakin besar, yang akan menimbulkan ledakan kasus, peningkatan kematian, permalsalahan ketersediaan tempat tidur rumah sakit.

Mari kita cegah bersama, mulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan tetangga, aparat pemerintahan, penegak hukum, satgas semua bertekad untuk memuuts rantai Covid, dengan segala cara.

Bersama kita bisa, jangan sampai seperti India, sebab kalau terjadi maka akan “labiah sadiah dari pilem India”

Semoga

INTOLERAN ?


UU/Perda bernuansa Islami intoleran??


Hangat masalah SMKN 2 Padang tentang “pemaksaan jilbab” pada siswi non muslim. Pada awal viralnya kabar ini saya rasa masih dalam batas batas kewajaran, banyak yang protes atas kejadian ini ada juga yang membela. Saya pribadi berprinsip memaksakan jilbab pada non muslim memang tidak dibolehkan, intoleran namanya.

Apakah kejadian pada SMKN 2 Padang adalah suatu pemaksaan?? saya tidak tahu, biarlah mekanisme Dinas Pendidikan Sumatera Barat yang melakukan penyelidikannya.

Belakangan berita dan opini yang beredar makin tidak terkendali setelah disusupi oleh komentar komentar dari orang orang yang pada dasarnya memang sudah anti dari dulu terhadap hal hal yang berbau Islami. Mereka mengait ngaitkan dengan HAM dan Intoleransi dengan menggiring opini bahwa aturan atau PERDA seperti itu berpotensi melanggar HAM dan intoleran.

Apakah mereka yang berpendapat seperti itu tidak menyadari bahwa justru dengan keinginan menghabisi PERDA seperti itu mereka sebenarnya sedang melanggar Hak orang Minangkabau untuk berpenampilan seperti yang mereka inginkan didalam Perda, dan harusnya mereka juga menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang tidak toleran terhadap mayoritas masyarakat Minangkabau yang berkeinginan untuk menerapkan syariat Islam dalam hal berpakaian.

Kalau memang mau menghilangkan aturan aturan yang berbau syariat itu di Minangkabau, seharusnya aturan apapun yang berbau syariat di bumi Indonesia ini harus dihilangkan, apa itu? Saya berikan dua contoh saja; yang pertama aturan dilarang berjualan dihari Minggu pada beberapa daerah di Papua dihapuskan, kedua aturan tidak boleh melakukan aktivitas selama Hari Raya nyepi di Bali harus ditiadakan…dan masih banyak dihapuskan.
Apakah memang harus begitu??

Kita tahu bahwa luar biasa toleransi para founding father kita, tidak kita ragukan lagi. Bung Hatta salah satunya. Apakah ada yang meragukan toleransi Bung Hatta??

Sehebat apa seorang tokoh saat ini yang akan meragukan toleransi Bung Hatta??

Lihat apa yang Bung Hatta tulis dalam Otobiografi beliau UNTUK NEGERIKU Jilid 3 Halaman 97 saya kutip disini..
…………………………………………………………………………..

Toleransi Para Pemimpin Islam

Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikoesoemo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin-pemimpin tersebut pada waktu itu benar-benar mementingkan nasib dan persatuan bangsa.

Pada waktu itu kami dapat menginsafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan “Ke Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”.

Orang tidak perlu mengambil saja dari syariat Islam yang berlaku dulu dinegeri negeri Arab dalam abad ke 8 dan 9 atau ke 10 yang pada waktu itu sesuai pula dengan keadaan masyarakat disitu.
………………………………………………………………………………

Lihatlah, betapa tolerannya mereka menyikapi perbedaan pendapat sehingga rela menghilangkan kata kata yang sebenarnya sangat prinsip bagi kaum muslimin, mereka rela melakukannya karena sangat menginginkan Indonesia yang besar dan Jaya. Tetapi mereka sangat menginsafi bahwa penghilangan kata kata itu tidak menghilangkan hak umat Islam untuk membuat aturan yang berlaku buat ummat islam saja yang sesuai dengan nilai nilai syariat seperti yang ditulis oleh bung Hatta, yang saya tulis kembali dengan tulisan miring.𝑫𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒏𝒆𝒈𝒂𝒓𝒂 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒎𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒌𝒂𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒃𝒐𝒚𝒂𝒏 𝑩𝒉𝒊𝒏𝒏𝒆𝒌𝒂 𝑻𝒖𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝑰𝒌𝒂, 𝒕𝒊𝒂𝒑-𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒑𝒆𝒓𝒂𝒕𝒖𝒓𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂 𝒔𝒚𝒂𝒓𝒊𝒂𝒕 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎, 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒋𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒓𝒆𝒏𝒄𝒂𝒏𝒂 𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈-𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆 𝑫𝑷𝑹, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑫𝑷𝑹 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒌𝒂𝒕 𝒖𝒎𝒂𝒕 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂. 𝑫𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒃𝒆𝒈𝒊𝒕𝒖, 𝒍𝒂𝒎𝒃𝒂𝒕 𝒍𝒂𝒖𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒖𝒎𝒂𝒕 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒔𝒊𝒔𝒕𝒆𝒎 𝒔𝒚𝒂𝒓𝒊𝒂𝒕 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒕𝒖𝒓 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈, 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒂𝒔𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝑨𝒍 𝑶𝒖𝒓𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒔, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒊 𝒑𝒖𝒍𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒌𝒂𝒕 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈.

Setelah membaca apa yang ditulis Bung Hatta, maka sudahilah sikap sikap yang selalu mendiskreditkan Ummat Islam di Minangkabau, jangan berlebih lebihan memanfaatkan kasus ini untuk mencapai maksud dan tujuan yang tidak sesuai dengan ummat Islam di ranah Minang. Marilah kita sama sama membangun masyarakat Indonesia yang penuh toleransi yang memberi kebebasan kepada Masyarakat untuk berekspresi sesuai Agama dan kepercayaaan yang dianutnya, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para Founding Father kita….

Stop segala hiruk pikuk ini, berhenti memprovokasi untuk hal hal yang tidak perlu, negara ini sedang butuh energi besar untuk melawan Covid Pandemi yang hari ini sudah melebihi angka satu juta dan belum menunjukkan kecenderungan untuk melambat pertambahannya. Jangan biarkan para penunggang yang senang “menembak diatas kuda” untuk memanfaatkan segala situasi yang ada untuk kepentingan mereka.

Indonesia Jaya

Covid segera musnah

Semoga

Jambi
Ed Zuhdi Darma